Hari ini kayaknya normal-normal aja, burung berkicau, matahari bersinar, alunan suara kentrut berbunyi dengan nada yang harmoni membawa wangi-wangi dari neraka membuat siapa saja yang menghirup aromanya memungkinkan untuk tewas dengan sukses di sertai mulut yang berbusa.
Jadi tiap mau berangkat ke pesantren itu gue transit di rumah "kakek nenek" (baca : KN) gue, karena rumah gue yang bisa di katakan lumayan jauh dan terpencil, saking terpencilnya enggak ada di dalam peta benua Afrika, jadi tiap shubuh gue bangun, ini gue lo yang bangun bukan yang lain, ehem ! Habis sholat shubuh biasanya gue langsung berangkat ke tempat KN gue. Gue selalu berangkat dengan keadaan belum mandi, ada beberapa factor yang menyebabkan gue berangkat tanpa mandi dulu, pertama karena muka gue tetap ganteng meski belum mandi, kedua kambing aja enggak mandi sampai 3 tahun laku aja tuh, ketiga mandi itu cuman ilusi kesegaran jadi kita cukup merasa segar aja, ya enggak gitu lah ! Kecuali bagian gue ganteng walau enggak mandi itu ada benernya, dikit. Jadi gue enggak mandi itu karena air keran di tempat gue itu kalo pas shubuh dingin abis ! Dinginnya itu ngalahin air di kulkas yang enggak di colokin kabelnya, tapi gue mandinya di rumah KN gue.
Nah jadi tadi pas gue mau berangkat dari rumah nih pas shubuh-shubuh, jalanan sepi banget, saking sepinya lo kalo mau joget gangnam style di tengah jalan itu enggak bakal ada yang nabrak, tapi ngelindes ! Motor gue terhenti ketika gue liat jalan utama di tutup dan di halangi sebuah alat berat, gue jadi terhenti di persimpangan bingung mau belok ke jalan yang kiri atau ke kanan, dengan akal yang di karuniakan Tuhan kepada gue tapi enggak gue pake, gue pakai insting penciuman gue, gue belok aja ke kanan, tapi aroma kebenaran yang gue hirup itu hilang setelah gue udah jauh jalan dan enggak tau harus kemana, mana enggak ada orang buat di tanyain, yang ada hanya tiang listrik yang di tempelin iklan hipnotis 3 jam langsung ahli di sertai dengan nomor handphonenya, gue mikir (suatu hal yang jarang gue lakuin) apa gue harus nelpon nomor handphone yang tertera di tiang listrik ini buat menanyakan jalan mana yang benar atau mungkin alam mulai enggan bersahabat dengan kita ? Akhirnya gue bertanya pada rumput yang begoyang, Ebiet G Ade kali ah !
Setelah termenung sebentar menatapi nomor handphone yang masang iklan hipnotis, rupanya iklan itu juga seperti menghipnotis gue dan menyadarkan gue dari kebodohan yang selama ini membelenggu otak dan jiwa gue, dengan insting yang masih purba gue lupa kalau zaman sekarang ada yang namanya GPS, ya oloh kenapa enggak dari tadi ?!!! Berkat bantuan GPS akhirnya gue bisa menempuh jalan yang gelap, kelam, dan kejam itu. Terimakasih GPS, engkau tlah menunjukan kepada ku jalan yang lurus.
Pas udah sampai di kediaman KN gue, gue langsung mandi trus cabut ke sekolah. Pas mau berangkat sekolah eh hujan ! Gue pun makai perlengkapan hujan gue, setelah siap gue cabut dengan hati yang riang gembira, wajah sumringah walau di guyur hujan. Baru setengah perjalanan, gue liat jalanan kering dan berdebu, ENGGAK ADA HUJAN !!! Lah ??!! Pakaian gue udah kaya orang yang siap menghadapi zaman es, cendol.
Di sekolah gue di sambut sebuah genangan air yang di postingan kemaren gue sebut sebagai sumur nuklir, tapi teori gue tentang bahwa sumur itu adalah sumur nuklir salah ! Setelah pagi ini warnanya berubah menjadi hitam pekat, dengan buih-buih coklat menyebar dengan biadabnya di mana-mana, serta bau yang menyengat, gue rasa ini adalah gas beracun, gue jadi tambah males buat ngambil air wudhu di situ, gue akan memberanikan diri untuk berwudhu di situ saat gue pingin jadi anggota "The Advangers", atau kota gue kena serangan monster atau alien, karena gue percaya sumur nuklir yang saat ini gue ubah namanya menjadi kubangan coca-cola kadaluwarsa itu dapat memberikan kekuatan super.
Selain kubangan coca-cola kadaluwarsa itu, ada kejadian yang tak di inginkan menimpa gue. Iya', kejadian itu adalah saat pelajaran hadist dan tajwid, gue suka banget sama dua mata pelajaran itu, karena ustadznya jarang masuk karena mungkin kesibukan yang lumayan padat, namun naas saudara-saudara sosok bersahaja itu datang dari balik pintu kelas, membuat gue yang lagi setengah ngantuk tertunduk di meja mengangkat kepala gue, dan menyapu iler yang hampir menetes. Akhirnya dengan semangat dan jiwa belajar gue yang tinggi (ukuran plankton) gue pun mengikuti pelajaran kayak biasanya, biasanya sih tidur sampai ngiler. Jadi buat lo semua nih ya', belajar yang rajin, kalo lo enggak bisa belajar yang rajin setidaknya lo mencintai pelajarannya, kayak gue, gue paling cinta sama yang namanya pelajaran kosong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar