Tepatnya pada tanggal 19 November kemaren, saat sebentar lagi adzan isya berkumandang, gue melepaskan status jomblo gue yang sudah gue pegang selama 3 kali ramadhan, 3 kali lebaran, 3 kali 17’an, gue sudah melalui masa-masa ngenes gue sebagai seorang jomblo, masa di mana semua cewek-cewek mengucilkan gue, bahkan menganggap kalo gue ini enggak pernah ada, setiap gue nge’chat cewek selalu enggak dapat balasan, pun dapat balasan, cuek mampus ! Ngajak kenalan kayak mau ngajak terjun ke jurang, susahnya setengah mati ! Ya’ gue bukannya enggak mau usaha ya’, tapi kalo cewek udah enggak “open” ya’ gue mundur. Gue tipikal orang yang pesimis, gue selalu menasehati diri gue “sadar diri sebelum percaya diri”, jadi gue enggak akan berusaha lebih untuk mendapatkan cewek yang emang udah enggak “open” sama gue, karena sikap cewek-cewek yang gue gebet selama menjomblo ini sudah membentuk karakter baru di dalam diri gue, gue jadi kuper, minder, gue merasa gue ini hina banget, enggak ada yang menginginkan gue, itulah kesimpulan yang bisa gue ambil dari sikap cewek-cewek terhormat yang penuh dengan kemuliaan yang selama ini gue gebet tapi ujung-ujungnya gagal jadian.
Dari banyaknya pengalaman gagal jadian itu enggak satupun penyebab gagalnya adalah karena gue ditolak, enggak pernah, selalu hal-hal lain yang enggak biasa. Dulu gue pernah nge’gebet cewek, si doi baik banget sama gue, selalu nasehatin gue segala macam, bahkan dia duluan yang mengungkapkan perasaannya, dia bilang kalau dia sayang sama gue, tapi dia enggak mau pacaran, entah apa maksudnya, tapi itu membuat gue berhenti untuk mengharapkannya, karena enggak cuman cewek, cowok juga butuh kepastian, gue enggak mau sayang-sayangan tanpa ada kejelasan suatu hubungan.
Pernah juga gue deket sama seorang cewek, gue jatuh cinta sama cewek ini, dia ramah banget sama gue, dia ngerti banget sama gue, kami punya banyak kesamaan, terutama pada selera musik. Awal gue deket sama dia, waktu itu dia nulis sebait lirik dari lagu “Gun and Roses” di status BBM’nya, gue yang kaget melihat ada cewek cantik berhijab, tapi dengernya lagu-lagu rock classic, gue langsung tertarik, dari situ gue PDKT lewat BBM selama beberapa minggu sampai pada akhirnya gue mau ngajak ketemuan, lalu dia bilang “Maaf, bukannya sok alim, tapi aku menghindari banget pertemuan sama cowok” gue langsung lemes ketika dia bilang gitu, diajak ketemuan aja enggak mau, apalagi pacaran, lagi-lagi gue harus mundur.
Dan yang paling tragis adalah waktu gue deket sama seorang cewek, gue kenal dia dari facebook, tapi dia tahu banyak kehidupan nyata gue, gue selalu kirim-kiriman message sama dia, orangnya lucu, mudah menerima lawakan-lawakan gue yang ringan, lama sudah masa PDKT, ternyata dia duluan yang nembak gue. Dulu gue pernah ngomong ke dia “cewek itu kayak ujian nasional, lembar jawaban dibagi, tapi lembar soal enggak dibagi, tapi tetap harus dijawab” saat itu gue cerita ke dia soal cewek yang enggak mau ngomong perasaannya ke cowoknya, tapi nuntut cowoknya harus mengerti dia, lah masalahnya aja enggak tahu, gimana mau ngerti kan ?. Waktu itu gue curhat ke cewek ini, tentang susahnya dapetin cewek, dia bilang “ada kok cewek yang mau sama lo” gue membantah perkataannya, tapi dia bilang “ada kok, gue mau kok jadi pacar lo, lo mau enggak jadi pacar gue” saat itu gue rada enggak percaya dia ngomong kayak gitu, lalu dia bilang lagi “gue udah ngasih lembar soal nih, sekarang gampang kan lo ngejawabnya”, saat itu gue nolak dia, karena enggak lama setelah itu dia bakal pindah ke luar kota, dan jujur gue orang yang sangat tidak sanggup dengan LDR, gue tipikal orang yang enggak bisa jauh dari orang yang gue sayang, dulu gue pernah nangis di rumah pacar gue(yang sekarang udah jadi mantan) di hadapan teman-temannya, cuman gara-gara dia mau pergi ke pantai, lebay ? Bisa dibilang gitu, tapi segitulah kemampuan hati gue, yang selalu kalah dengan “jarak”, dan cewek yang nembak gue itu sekarang udah nikah dan hidup bahagia selamanha.
Hingga pada akhirnya, gue bertemu dengan seorang cewek, Nisa Ramadhayanti, orang yang suka baca-baca blog gue, kali ini namanya malah mengisi blog gue, terlebih lagi mengisi hati gue. Dia emang enggak bisa mengatasi masalah gue yang lagi “susah” buat nulis, tapi kehadirannya bisa membuat hati gue jatuh cinta lagi, dan itu indah banget.
Setelah PDKT dengannya beberapa lama, pada akhirnya gue memutuskan untuk mengakhiri masa PDKT ini. Waktu itu malam jum’at, harusnya dia pergi ke pengajian, tapi gue tetap ngotot buat ngajak dia ketemuan, dan dia menerima ajakan gue. Malam sebelumnya gue udah nyiapkan puisi yang bakal gue kasih buat nembak dia, esoknya setelah pulang sekolah gue ke percetakan buat nyetak puisi yang gue buat kemaren, persis pas gue nyampe malah mati lampu, gue tungguin setelah beberapa jam lampu enggak nyala, gue putuskan buat nge’Gym dan pulangnya baru gue cetak puisinya, gue nyetak puisinya karena tulisan gue enggak lebih bagus dari tulisan anak SD, gue enggak mau gara-gara tulisan tangan gue, moment nembak gue jadi rusak gara-gara cewek gue enggak bisa baca tulisan gue.
Malam pun tiba, gue siap-siap dari jam 6 sore, selesai sholat maghrib gue langsung berangkat. Sesampainya di rumah makan yang kebetulan bersebrangan dengan masjid tempat cewek gue pengajian. Waktu itu dia nungguin di depan masjid dan minta gue untuk menjemputnnya karena dia enggak berani nyebrang, gue pun menjemputnya dan cuman melihat dia dari jauh, karena pakaian gue saat itu enggak membaur dengan orang-orang yang pergi ke masjid, dari jauh gue udah bisa mengenal atau lebih tepatnya merasakan kalau itu adalah dia memakai baju berwarna kuning dan pada bagian tangannya berwarna putih senada dengan kerudung yang dia kenakan, padahal sebelumnya gue nggak pernah ketemu dia sama sekali, tapi gue memberanikan diri untuk melambaikan tangan gue agar dia menghampiri gue, dan ternyata emang benar kalau itu dia. Saat nyebrang gue rada ragu buat menggandeng tangannya, tapi hati gue berusaha banget buat melindungi dan menjaganya.Saat sudah di rumah makan, gue pun duduk berhadapan dengan dia, gue mesan makanan, waktu itu 2 ayam goreng dan 2 es teh, sambil menunggu makanan, gue ngobrol banyak ke dia, dia selalu menertawakan apa yang guebicarakan, dan gue terus menerus ngelucu di hadapannya supaya gue selalu bisa melihat senyumannya, dan gue mau nunjukkin betapa mudahnya gue buat membahagiakan dia. Saat selesai makan, gue kasih puisi yang udah gue cetak tadi, puisi itu gue masukin ke dalam kotak panjang berwarna putih yang gue hias dengan pita berwarna pink menyala, lalu dia buka kotaknya dan dia baca. Kertas yang berisi puisi itu menutupi seluruh mukanya, sehingga gue enggak bisa melihat seperti apa ekspresinya saat membaca puisi gue, cukup lama kertas itu menutupi mukanya, gue yakin dia udah selelsai membaca, tapi dia menutupi mukanya untuk memikirkan sesuatu, memikirkan jawaban apa yang harus dia beri ke gue, atau memikirkan habis ini dia harus ngomong apa. Kertas itu lalu dia pegang ke samping sehingga terlihatlah matanya yang berbinar karena ada air mata yang tertahan di sana, walau begitu dia tetap tersenyum sambil menanyakan baris terakhir puisi gue yang berisi sebuah pertanyaan “Bersediakah engkau ?” dia nanya “Ini maksudnya apa ? Bersediakah engkau terus tanda tanya” lalu gue bilang “kamu pasti ngerti yang ku maksud”, lalu dia bilang “jawabannya mau sekarang atau kapan ?”, “gue enggak tahu umur gue sampai kapan” sahut gue, lalu dia bilang “nanti jawabannya pas udah nyebrangkan aku ke masjid”, saat itu gue mikir bakalan ditolak, karena kalau dia nolak gue saat itu udah pasti gue enggak bakal nyebrangkan dia. Karena udah adzan isya, gue menyudahi pertemuan kami, gue bayar makan ke kasir, setelah itu gue nyebrangkan dia, kali ini gue beranikan diri gandeng tangannya, karena gue merasa saat itu bakal ditolak, ya kalau enggak jadi pacarnya setidaknya gue pernah genggam tangannya, pas udah sampai di sebrang gue nanya ke dia “jadi gimana jawabannya ?” dan enggak gue sangka, dia menerima gue, gue pun memutuskan untuk pulang setelah tos ala Bay Max dan Hiro dan dia ketawa dengan hal itu.Kehidupan memang unik, orang yang biasa baca blog gue, sekarang jadi bagian dalam tulisan blog gue, jadi bagian dari hidup gue, bagian dari diri gue, bagian dari kebahagiaan gue.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar