Laman

Rabu, 10 Februari 2016

"Basah kelasku, basah selangkanganku"

Tadi pagi cuaca cukup mendung, setelah lama menunggu hujan yang tak kunjung turun, gue putuskan untuk berangkat sekolah. Iya’, gue berharap hujan turun, biar gue berangkat sekolah rada telat, nungguin hujan reda dulu, tapi sayang harapan gue pupus saat jam 7 tepat jalanan masih kering, dan enggak setetes pun hujan turun, karena enggak mau telat, ya gue berangkat dengan berat.

Sampai di sekolah saat jam pelajaran pertama berlangsung dan Ustadz baru datang, gue baru sadar kalau kitab gue ketinggalan. Gue keep calm aja seolah enggak terjadi apa-apa. Ketenangan gue enggak berlangsung lama, saat Ustadz tiba-tiba menatap ke arah gue, dan nanya “kitab kamu mana ?”, wajah teman-teman gue terlihat sangat sumringah karena tahu hal buruk akan menimpa gue.

“Kitab saya ketinggalan Ustadz,” sahut gue pelan

Enggak pakai basa-basi Ustadz nyuruh gue berdiri sebagai hukuman karena kecerobohan gue sendiri, teman-teman gue pada senang melihat gue dihukum, begitulah mereka. Sebenarnya gue bersyukur juga dihukum sama Ustadz, artinya gue punya sesuatu buat diceritain di blog ini, dan orang-orang pada senang dengan cerita-cerita kayak gini, penderitaan gue, bagi gue itu cukup lucu untuk ditertawakan.

Masih dalam hukuman gue, gue berharap ada kejadian menarik lagi yang terjadi setelah ini buat gue ceritakan. Entah sesholeh apa gue sehingga harapan gue benar-benar terkabul, saat istirahat pertama ketua kelas gue minta buat bersihin mushola yang juga emang jadi kelas kami, dikarenakan banyaknya hama binatang-binatang kecil yang bikin gatel, sebenarnya kehadiran hama ini enggak ganggu-ganggu amat, tapi cuman jadi alasan biar kami enggak belajar dan bisa seru-seruan.

Awalnya karena males bersih-bersih gue keluar dari mushola dan cuman nongkrong di teras, tapi ternyata lantai mushola disiram pakai air sabun sampai membasahi seluruh lantai dan membuatnya jadi licin. Gue di jendela mushola dari luar, seorang teman gue, Rizky Ramadhani melepaskan sarung dan baju koko yang dia pakai, sampai cuman makai celana bola dan baju kaos aja, lalu dia berseluncur di lantai mushola yang licin itu, melihat hal itu bikin gue tertarik buat ikutan. Tapi masih canggung karena saat itu cuman Rizky aja yang meluncur-luncur sendirian, perbuatan Rizky diiringi oleh temen gue yang lain, dia juga melepaskan baju koko dan sarungnya, sampai yang tersisa cuman celana pendek dan baju kaos. Gue mau ikutan tapi mikir jam pulang masih lama dan takut kena marah Ustadz, tapi enggak lama Ustadz datang dan enggak ada komentar yang artinya enggak ada masalah. Gue mulai melepaskan baju koko dan sarung gue, gue jalan-jalan dulu di dalam mushola untuk membiasakan diri dengan keadaan lantai yang udah benar-benar licin, saat gue rasa sudah siap untuk meluncur, gue jongkok dan menyandarkan badan gue di dinding mushola buat mendorong badan gue biar bisa melesat kencang, dan wussshhhhhhhhhh…..!!!! Gue meluncur dan terpental.

Gue liat temen gue Yani duduk di pinggir cuman ngeliatin, gue coba dekatin buat ngajak, awalnya dia enggak mau, tapi karena dipaksa, ditarik-tarik sama teman-teman gue yang lain dan udah terlanjur basah juga akhirnya dia juga ikutan. Di tengah mushola ada temen gue namanya Amin, dia berdiri sambil pegangan di pilar mushola, melihat hal itu gue kembali bersandar ke dinding mushola untuk mendorong badan gue, agar dapat meluncur ke arah Amin dan mencoba menjatuhkannya. Gue siap melesat, kaki gue udah ancang-ancang ambil posisi untuk mendorong badan gue dan, wusshhhhh….!!!! Gue meluncur dengan cepat, hampir menabrak kaki Amin tapi enggak nyampe, gue gunakan tangan gue untuk menarik kedua kakinya dan GUBRAK !!! Badan Amin terhempas ke ubin dengan diiringi gelak tawa teman-teman gue yang melihat kejadian itu, gue langsung menjauh tanpa rasa berdosa. Enggak lama setelah kejadian itu, dari pintu mushola ketua kelas gue Hafidz Khairiry berjalan masuk dengan santainya, seorang teman gue ngesleding tekel dia dari samping yang membuatnya jatuh, sesaat setelah Hafidz jatuh 2 teman gue saling menindihi badannya dengan brutal. Hari ini kelas benar-benar kacau.

Saat gue udah capek, gue pun membersihkan badan gue, gue ke kran di depan mushola yang biasa di pakai buat berwudhu untuk membersihkan badan gue yang penuh sabun sampai ke bagian selangkangan gue. Enggak lama setelah itu Ustadz datang, gue buru-buru makai sarung sama baju koko gue, padahal di balik sarung dan baju koko gue pakaian gue pada basah semua. Awalnya Ustadz datang buat ngajakin sholat dzuhur berjamaah, tapi melihat keadaan mushola yang basah dan enggak memungkinkan dipakai buat sholat dzuhur, lalu beliau balik ke kantor.

Melihat Ustadz yang balik ke kantor, gue ngambil tas sama helm gue buat buru-buru pulang. Dari jauh gue liat teman-teman gue yang lain pada pulang atau lebih tepatnya kabur satu persatu, melihat banyaknya santri yang pada pulang, Ustadz yang lain berdiri di depan kantor buat menghalau para santri yang mau pulang duluan, keberadaan Ustadz enggak gue hiraukan, gue lari sekencang mungkin menuju motor gue lalu pergi meninggalkan sekolah. Di tengah jalan hujan turun dan membasahi kembali pakaian gue yang memang sudah basah sebelumnya.

Sesampainya di rumah gue baru nyadar kalau lutut gue lecet, paha gue sakit, kaki gue penuh dengan lebam merah, muka gue ancur (itu emang udah dari sananya). Tapi dari sini gue belajar satu hal, seru-seruan bareng teman adalah pereda luka paling mujarab, walau enggak menyembuhkan, setidaknya lo bisa melupakan sejenak sakit yang lo derita.

Video gue saat menjatuhkan Amin, bisa lihat di instagram gue @ahmaddha_il , ini linknya :

https://www.instagram.com/p/BBmKqwRFxgV/

(Ini adalah foto gue saat meluncur untuk mencoba menjatuhkan teman gue si Amin)

Rabu, 20 Januari 2016

Kisah Cinta Yani (dan rambutnya)

Biasanya sehabis gue nulis postingan di blog, gue langsung nyebarin link blog gue lewat pesan siaran di “BlackBerry Messanger”, dan kemaren saat gue broadcast postingan dengan judul “Belajar dari rasa sakit”, seorang teman sekelas gue, Ahmad Yani dia ngerespon pesan gue dan kasih masukan atas blog ini, dia bilang kalau gue harus lebih banyak menuliskan cerita tentang kehidupan gue di pesantren, gue terima masukannya, dan masukkannya memang ada benarnya, blog ini udah jarang gue isi dengan cerita-cerita kehidupan gue di pesantren, yang ada malah berisikan kegalauan-kegalauan gue, hal itu terjadi karena kegelisahan gue terhadap asmara lebih dominan ketimbang kegelisahan-kegelisahan gue tentang apa yang terjadi di pesantren, lagian gue enggak menemukan hal menarik di pesantren yang bisa gue tuliskan, sampai pada hari sabtu kemarin, saat jam pelajaran ketiga dan kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Seorang temen gue lari dengan cepat dari luar kelas menuju ke dalam kelas, lalu dia duduk sebentar dan ngasih kabar kalau ada Ustadz yang biasa ngerazia rambut para santri bakal datang ke kelas. Kabar yang berawal dari barisan belakang itu menyebar dengan cepat ke barisan depan, dan satu kelas mendadak penuh dengan keresahan temen-temen gue yang pingin pada kabur menghindari razia rambut itu, tapi gue enggak ! Bukan karena rambut gue rapi, indah dan berseri, BUKAN ! Bukan karena gue mau menghadapinya dengan lapang dada, juga BUKAN ! Gue udah biasa ! Seumur hidup gue sekolah di pesantren, gue selalu kena razia rambut, jadi gue nyantai aja.

Beda halnya dengan gue yang nyantai dengan razia rambut, temen gue yang bawa kabar tadi kabur, saat dia kabur, Ustadz yang mendampingi Ustadz yang biasa ngerazia rambut para santri ini ngejar dia, enggak lama kemudian Yani juga ikut-ikutan kabur, Yani kabur ke WC, pas di WC emang sial dianya, malah ketemu sama Ustadz yang tadi ngejar temen gue yang kabur duluan.

“Kemana lo ?,” Bentak Ustadz

“Ke WC, Ustadz,” Sahut Yani pelan

“Alesan ! Balik ke kelas !,” Ustadz yang satu ini emang terkenal galak, jangankan ngebentak, kalau beliau lewat aja santri biasanya langsung pada kabur.

Yani balik ke kelas sambil ditoyor-toyor Ustadz yang disertai dengan marahnya beliau, sampai di kelas apesnya Yani belum kelar, kepalanya dipukul Ustadz tadi, terus rambutnya dipotong secara brutal karena mencoba kabur.

Sebenarnya gue heran, si Yani ini kenapa nyoba kabur, pacar juga enggak punya, rambutnya botak kek, klimis kek, kagak karuan habis dipotong Ustadz kek, kan enggak ngaruh ya’, tampil keren juga bukan buat siapa-siapa, tampil enggak karuan juga enggak mempengaruhi siapa-siapa, pacar enggak punya gitu.

Awalnya gue ngira Yani enggak punya pacar gara-gara dia homo, ternyata dia enggak homo, tapi mantannya yang homo (Lah ?), enggak ! Gue becanda, Yani normal kok. Ya’ gue ngiranya dia enggak mau pacaran gara-gara mau fokus sekolah, tapi ternyata enggak ! Dia trauma, gara-gara dulu pacarnya sering mendapatkan gosip-gosip kurang menyenangkan dari teman-temannya yang mengatakan kalau Yani ini suka godain cewek, padahal bagus ya kalau dia godain cewek daripada godain bencong. Ceweknya kemakan gosip-gosip murahan dari teman-temannya, gue enggak tahu deh orang yang kemakan gosip itu e’eknya keluar apa. Yani pun putus dengan ceweknya. Beberapa waktu kemudian, si cewek menyadari kalau gosip-gosip tentang Yani itu sepenuhnya salah, cewek itu menyesal karena sudah meninggalkan Yani, tapi apa daya, nasi sudah menjadi dadar gulung, Yani tak menghiraukan bujuk rayu wanita yang sudah membuatnya jera dalam bercinta, sebenarnya enggak jera sih, dia belum ketemu yang cocok aja. Sebenarnya di kasus Yani ini bukan salah ceweknya, cewek percaya sama temannya wajar aja menurut gue, dan temen-temen ceweknya ini juga enggak salah karena mengkhawatirkan temannya biar enggak terluka, tapi yang lebih enggak bersalah adalah Yani, dia cuman jadi korban dari ketidak percayaan ceweknya, dan suara-suara sumbang dari teman-teman pacarnya.

Yani ya’, nyuruh gue nulis cerita-cerita yang ada di pesantren, enggak cuman sekedar nyuruh, tapi juga terlibat menjadi bagian cerita yang gue tulis.

Ustadz yang biasa ngerazia rambut santri memulai dari barisan paling kanan depan, gue rada deg-degan, tapi tetap nyantai, gue duduk di tengah barisan kedua. Satu persatu rambut teman gue sudah mulai enggak jelas bentuknya, gue bisa lihat ekspresi-ekspresi kecewa di wajah temen-temen gue. Ustadz pun sampai ke tempat duduk gue, gue disuruh lepas peci, rambut gue dielus-elus, dan betapa ajaibnya, entah karomah apa yang gue dapatkan saat itu, RAMBUT GUE ENGGAK DIPOTONG ! Rasanya kayak ada malaikat yang memainkan biola di samping gue, mengalunkan lagu yang merdu dari surga, menyalakan api asmara yang dahulu pernah membara (jadi kayak lagu ya ?). Saat itu gue senengnya bukan main, setelah berkali-kali menjadi korban razia rambut, tapi hari itu rambut gue hanya dielus-elus oleh Ustadz, dan lebih bahagia lagi di saat temen-temen yang biasa ngejekin gue kalau kena razia rambut, gue bisa menertawakan mereka dengan riang gembira dan kebahagian yang tulus terpancar dari hati gue yang penuh dengan luka ini.


Ini adalah Foto Ahmad Yani sebelum rambutnya kena potong, percayalah dia masih gantengan gue !

Senin, 18 Januari 2016

Saya terima nikahnya...

Ternyata cinta enggak sesederhana yang gue kira. Gue enggak ngerti, entah arti cinta yang berubah, atau gue yang berubah. Mungkin karena umur gue yang udah bertambah, atau karena gue enggak bisa mengontrol nafsu gue yang menggebu-gebu layaknya remaja yang baru tumbuh beranjak dewasa. Enggak tau kenapa di usia gue yang tergolong muda ini, gue terbebani oleh pikiran untuk NIKAH ! Ya’ menikah. Beberapa minggu ini otak gue dihantui oleh bayangan pernikahan, bahkan mulut gue selalu mengucapkan akad nikah di setiap kesempatan “saya terima nikahnya dengan mahar tersebut tunai” (dalam bahasa Arab) enggak bosan lidah gue mengucapkannya, seolah-olah gue adalah mempelai pria yang sudah siap untuk menghadap penghulu, gue mikirin pekerjaan apa yang cocok buat gue, bisnis, jadi karyawan atau  menjual jasa, hal-hal itu memenuhi benak gue, sebuah beban yang tak seharusnya dipikul oleh remaja seumuran gue.

Gue enggak tahu apa yang merasuki gue, apakah cinta gue kepada pacar gue terlalu besar, atau nafsu gue yang terlalu besar. Hari minggu kemarin satu hari penuh gue galau mau ngomong ke orang tua gue kalau gue pingin nikah, gue pikir gue udah gila memikirkan hal semacam itu, gue sekolah baru 2 Ulya (setara SMA) , dan di otak gue udah terbesit hasrat pingin nikah, fix gue anggap gue gila ! Mapan memang tidak termasuk syarat menikah, tapi gue enggak mau membiarkan pasangan gue hidup blangsak sekalipun dia mau hidup susah bareng gue, gue sebagai laki-laki merasa berdosa membiarkan pasangan gue hidup susah, memang hidup enggak selalu menyenangkan, tapi kalau susah terus-terusan kan kasian.

Gue enggak bisa membiarkan pikiran-pikiran ini membebani gue, karena belum bahkan bukan saatnya untuk gue memikirkan hal-hal semacam itu. Pada akhirnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalkan gue berhenti sekolah, atau hal-hal buruk lainnya, gue putuskan untuk mengakhiri hubungan gue dengan pacar gue, agar gue bisa fokus dengan apa yang ada di hadapan gue, bukan apa yang jauh di depan gue.

Sakit mengingat betapa gue menyayangi dia tapi mau enggak mau gue harus melepaskannya, demi kebaikan gue. Tindakkan gue memang terlihat sangat egois, tapi di sisi lain, apa yang gue lakukan ini enggak semata-mata hanya untuk kepentingan gue pribadi, tapi juga kepentingan dia, di umur kami yang masih sangat muda, ada banyak kesempatan untuk meraih hal yang lebih baik, dan gue enggak mau kesempatan itu hilang karena kegegabahan dan keputusan-keputusan bodoh dari gue yang masih sangat labil.

Siapapun pasti bakal sakit hati diputusin sama pacarnya, gue bisa maklum kalau pacar gue sakit hati karena putus sama gue, dan gue merasa sangat bersalah sudah membuatnya jatuh cinta lalu meninggalkannya karena kebodohan gue. Rasa bersalah itu seperti hukuman buat gue, atas apa yang sudah gue perbuat, yaitu membuat dia terluka. Kadang cinta memang harus penuh dengan luka, dan dari luka itu tanda bahwa cinta itu memang benar-benar ada. Sayangnya dia enggak mengerti seperti apa kondisi gue, yang frustasi memikirkan hubungan ini untuk mengarah ke jenjang yang lebih serius, yang seharusnya gue enggak perlu memikirkan hal itu di umur gue yang sekarang, itu yang enggak bisa dia lihat, yang dia lihat hanya seorang cowok brengsek yang udah mutusin dia, membuat dia terluka, dan cowok itu yang salah, cowok memang selalu salah. Harusnya dia sadar betapa sayangnya gue ke dia sampai-sampai gue memikirkan hal yang enggak seharusnya gue pikirkan, yaitu masa depan gue bersama dia, sayangnya dia enggak ngerti dan enggak akan mengerti, gue akan tetap menjadi orang yang bersalah, gue emang salah, dan selalu begitu, orang enggak pernah bisa memandang sisi baik gue, bahkan dia yang katanya sayang sama gue enggak bisa melihat itu, enggak bisa melihat betapa terpuruknya gue hanya karena memikirkan dia, betapa sengsaranya gue ketika melihat dia bahagia bersama orang lain, betapa menderitanya gue ketika harus melepaskan dia, semua itu enggak akan terlihat, tertutup oleh luka yang gue torehkan di hatinya.

Dia cewek yang baik, bahkan mungkin yang terbaik yang pernah gue miliki, di matanya gue melihat ketulusan dan masa depan, di senyumnya gue melihat kedamaian surga, lembut genggaman tangannya membuat gue merasa ingin hidup sekali lagi. Mungkin terdengar berlebihan, tapi memang begitulah faktanya. Di saat 3 tahun luntang-lantung PDKT sama cewek, gue selalu dicuekin, diPHP, enggak dipedulikan, dia dengan kebaikkan hatinya menerima gue apa adanya, dia kayak oase yang hadir saat gue sudah lama berjalan dan tersesat di padang gurun yang tandus. Dia cewek yang tangguh, mampu bersabar menghadapi sikap gue yang kerap kali meledak-ledak. Dia menjadi alasan gue semangat dalam menulis, untuk menerbitkan sebuah buku, menjadi penulis, dan menjadi sukses, agar dapat membahagiakannya di saat yang tepat, saat gue yang bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang membuat orang lain bangga, saat gue yang enggak punya apa-apa sudah punya sesuatu untuk menjalani pahit manisnya kehidupan, tak perlu mapan, asal cukup untuk mencukupi kebutuhannya, tapi sayangnya bukan saat ini. Bayi yang harus makan bubur enggak boleh makan nasi kalau belum waktunya, dan sekarang belum waktunya, mungkin nanti.

Untuk saat ini gue hanya sayang sama dia, move on ? Buat apa ? Gue enggak berusaha untuk melupakannya, karena udah lama gue enggak jatuh cinta, dan selama perasaan ini masih ada, gue enggak akan pindah ke lain hati, lalu kenapa gue pergi ? Karena gue pergi untuk kembali, kapan gue kembali ? Gue bukan orang yang suka dengan hal-hal yang enggak pasti, tapi gue enggak mau memastikan kapan gue kembali, sebab hidup penuh dengan misteri, gue enggak tahu kedepannya akan jadi seperti apa, tapi satu hal yang pasti, jika perasaan ini masih ada, gue pasti akan kembali, jodoh pasti bertemu bukan ? Iya’ PASTI !

Senin, 11 Januari 2016

Belajar dari rasa sakit (Patah Hati)

Hidup ini penuh dengan kesakitan, setuju ? Ya’ kalo enggak setuju gue juga enggak maksa, tulisan ini tetep bakal gue lanjutkan juga sih. Banyak kesakitan-kesakitan yang selalu hadir di kehidupan kita, misalkan sikut kejedot lalu berasa kayak kesetrum, serpihan kayu masuk ke dalam kuku lalu kalau dicabut sakitnya bukan main, kalo pas dicabut terus masih ada yang kesisa susah banget buat ngambilnya, sakit pula, jari kelingking kaki ketendang meja, biasanya gue langsung guling-guling dan jerit-jerit kayak ibu-ibu melahirkan saat mengalaminya, dan banyak lagi kesakitan-kesakitan yang lainnya. Kali ini gue bakal membahas rasa sakit yang gue alami, yang terjadi dari berbagai macam hal.

Rasa sakit yang cukup gila menurut gue adalah saat disunat. Saat orang tua gue bilang kalau disunat itu rasanya kayak digigit semut dan bodohnya gue percaya perkataan mereka, ya’ gue pun mau-mau aja disunat, gue enggak disunat di rumah sakit, gue sunat  dengan cara tradisional, gue enggak mau menceritakan prosesnya seperti apa, karena gue enggak mau bikin para pembaca jadi muntah gara-gara harus baca cerita tentang titit gue, gue cuman nyeritain betapa sakitnya disunat. Rasa sakit disunat itu bikin gue kayak orang kesurupan, saat itu gue masih kecil banget, dan pembendaharaan kata-kata kotor gue enggak banyak, tapi ketika disunat dan merasakan sakitnya disunat, gue teriak sejadi-jadinya, dan isi teriakan gue semuanya kata-kata kotor yang enggak banyak diketahui oleh anak-anak seumur gue pada saat itu, gue nangis jerit-jerit sekencang-kencangnya, tapi percuma, rasa sakit itu tetap ada. Kelar proses sunatan, gue lega, gue merasa seperti terlahir kembali, oksigen rasanya jadi lebih segar saat sebelum gue disunat, tapi ternyata kelegaan gue enggak berlangsung lama, masih ada proses selanjutnya yang KAMPRET ! SAKIT PARAH! Pelepasan perban bekas sunatan gue, jadi biasanya sesudah sunatan yang disunat ini mesti berendam di air biar perban atau jahitan (kalau dijahit) bisa lepas, tapi beda halnya dengan gue, setelah berendam berhari-hari  tapi  cuman lepas dikit aja, sampai pada akhirnya nyokap memutuskan mendatangkan tante gue yang juga seorang perawat untuk melepaskan perban yang melingkar di titit gue ini. Saat akan memulai proses pencabutan perban, gue rada deg-degan, pikir gue “ah cuman lepas perban”, tapi kalimat itu gue tarik kembali saat perlahan perban di titit gue dilepaskan oleh tante gue, SAKITNYA bikin teriakan gue dari lantai 2 rumah bisa kedengeran sampai perut bumi, sakit parah, dan reaksi gue saat itu menurut gue enggak berlebihan gitu, bukan karena guenya cengeng atau enggak kuat nahan sakit, enggak ! Soalnya gue pernah liat bokap masang koyo di betisnya yang berbulu itu, dan saat ngelepasnya gue liat dengan mata kepala gue ada air mata yang netes dari mata bokap, karena sakitnya nyabut koyo dan bulu-bulu di betisny harus ikut kecabut, orang dewasa loh nangis, lah gimana gue yang saat itu masih kecil, dan yang gue hadapin lebih dari nyabut koyo dari betis yang berbulu, nyabut perban yang lengket dari titit yang luka, oh my God, cewek enggak akan pernah ngerti gimana sakitnya. Tapi dari sakitnya sunatan ini gue belajar satu hal “untuk menjadi BESAR, sakit itu WAJAR”.

Enggak cuman dari sunatan rasa sakit yang terjadi dalam hidup gue, gue pernah terjun bebas dari lantai 2 sekolah SD gue yang tingginya kira-kira 10 meteran mungkin, gue masih ingat hari itu adalah hari pertama gue duduk di kelas 2 SD, saat itu ada pembangunan kelas baru 2 tingkat di dekat kelas gue, saat itu masih pagi, dan bel sekolah belum berbunyi, gue main kejar-kejaran sama 1 temen gue, lari-larian kayak anak kecil pada umumnya, sampai gue lari ke bangunan belum jadi itu, gue dan temen gue lari-larian sampai menaiki tangga menuju lantai 2, dan setelah sampai di atas kami terhenti gara-gara enggak nyadar udah lari-larian sampai ke atas gedung sekolah, karena rasa penasaran kami berjalan menuju pinggiran bangunan gedung, kami berjalan perlahan karena saat itu enggak ada pagar yang menutupi pinggiran gedung, jadi kalau salah langkah dikit aja bisa jatuh ke bawah, saat itu gue liat ember yang tergantung di katrol untuk mengangkut semen dari bawah ke atas, gue mencoba meraih ember itu biar bisa main-main , saat gue mencoba meraihnya, badan gue mulai enggak seimbang, dan gue jatuh, saat masih di udara dalam keadaan setengah sadar dan enggak mikirin apa-apa gue denger teriakan dari banyak orang, dan gubrak ! Badan gue terhempas di gundukan pasir, dengan posisi kepala terlebih dahulu, badan gue terhempas dengan keras, rasanya kayak gue lagi tanding smack down sama Hulk, gue terbaring lemah, Hulk naik ring lalu melompat menindihi tubuh gue. Saat itu gue udah menyentuh daratan dengan keadaan setengah sadar, keributan dari orang-orang yang menggerumbungi gue menyadarkan gue, gue bisa rasakan tubuh gue penuh dengan pasir sampai masuk ke dalam mulut, lalu ada ibu-ibu ngasih gue minum biar gue enggak shock, gue enggak ingat kejadian selanjutnya seperti apa, karena kesadaran gue saat itu benar-benar kacau, gue shock berat. Sampai satu tahun kejadian itu berlalu, saat gue kelas 3 SD gue tinggal di rumah kakek nenek gue, suatu pagi gue terbangun karena gue kedinginan hebat, seluruh badan gue kejang-kejang, terutama tangan gue yang kejangg parah, satu rumah panik, dan lebih panik lagi karena saat itu gue enggak bisa disentuh, setiap ada yang nyentuh gue gue teriak karena kesakitan, saat itu tangan gue sakit banget saat mau megang atau meraba sesuatu, gue enggak bisa merasakan kaki gue, tapi saat gue berdiri rasanya kayak berdiri di atas benda-benda tajam, rasanya setiap langkah kaki gue tersayat-sayat. Enggak pakai lama gue langsung dilarikan di rumah sakit, sesampainya di UGD gue membuat para suster sedikit kebingungan karena mereka bingung gimana mau meriksa penyakit gue, sedangkan gue kesakitan kalau dipegang, sampai pada akhirnya gue disuruh buat cek darah, dan saat itu gue takut disuntik, jadi ketika perawatnya datang bawa suntikan dan berjalan mengarah ke arah gue yang saat itu tidak berdaya, melihat suntikan di tangan suster memberi gue sebuah kekuatan yang maha dahsyat, di saat keadaan seperti itu mendadak gue lompat dari ranjang rumah sakit dan KABUR ! Gue lari sekenceng-kencengnya entah dengan kekuatan apa gue bisa berlari itu, padahal beberapa menit sebelumnya gue enggak bisa merasakan kaki gue, dan enggak sanggup buat berdiri. Saat itu gue sembunyi di sebuah tempat di pinggir sungai tempat biasa gue main-main air bareng bokap, saat itu semua keluarga pada nyari gue, dan saat gue bersembunyi gue kayak orang sakau, kejang, kedinginan, keringetan, dan kembali enggak bisa merasakan kaki gue, telapak tangan gue kembali sakit saat dipegang, setelah lama bersembunyi pada akhirnya bokap lah yang menemukan keberadaan gue, gue langsung dibawa ke rumah sakit lagi untuk dicek darahnya, dan ternyata gue mengalami pendarahan di kepala gara-gara kejadian satu tahun lalu, dan efeknya baru muncul satu tahun kemudian, dari sini gue belajar “rasa takut akan mengalahkan rasa sakit, bahkan membuat rasa sakit menjadi enggak kerasa lagi, yang ada hanya takut, takut akan rasa sakit.”

Tapi di antara semua kesakitan yang pernah gue rasakan di hidup gue, enggak ada sakit yang seunik patah hati, karena sakitnya patah hati itu hadir tanpa luka, tanpa darah, tanpa harus jatuh dari tempat yang tinggi, tanpa harus dihantam oleh sesuatu yang keras, tanpa ada jarum yang harus ditancapkan ditubuh kita, dan tanpa terduga. Patah hati pertama gue terjadi di usia sangat belia, saat gue kelas 1 SMP, saat itu umur gue mungkin baru 13 atau 14 tahunan aja, terlalu muda untuk patah hati, intinya gue patah hati gara-gara diputusin cewek gue saat itu. Harus gue akui disunat, jatuh dari gedung, disuntik  hal-hal seperti itu lebih sakit daripada patah hati, tapi kenapa patah hati terkesan mengalahkan rasa sakit apapun ? Sebab patah hati selalu diiringi dua hal, “kesedihan dan kehilangan”.

 Saat lo sakit parah lo masih bisa senang dengan orang-orang yang menjenguk lo mungkin, atau apapun itu, tapi kalo udah patah hati enggak mungkin bisa senang bukan ?. Kehilangan, patah hati juga selalu diiringi dengan kehilangan, kalo lo lagi sakit, separah apapun itu lo masih bisa lihat orang-orang yang lo sayang di sekeliling lo, tapi saat patah hati itu artinya lo kehilangan seseorang yang lo sayang, dan itu yang membuat patah hati terkesan sakit yang benar-benar sakit. Tapi dari patah hati gue belajar banyak, gue bisa nulis gara-gara sebuah luka yang terjadi karena patah hati, gue lebih bisa memahami cewek, gue lebih bisa mengerti cinta, terlebih-lebih saat tahun lalu gue beli bukunya Raditya Dika yang berjudul “Koala Kumal” di bab terakhirnya yang berjudul sama dengan nama bukunya, menceritakan tentang pengalaman patah hatinya Radit, begini ceritanya gue kutip dari bukunya :

MENJELANG buku ini selesai ditulis, gue pun mulai mencari judul yang pas. Seperti biasanya, gue berkonsultasi dengan menelepon Mbak Windy Ariestanty, editor buku ini.

Gue bertanya ‘Apa ya, Mbak, judul yang pas untuk buku baruku?’
Mbak Windy bilang, ‘entar aja ya, akhir bulan aku bantu mikir. Sekarang aku mau ke Afrika, mau jalan-jalan. Emang bab apa yang paling kamu ingat sewaktu nulis buku itu ?’

‘Ada, soal patah hati yang terhebat,’ kata gue.

‘Cari judul yang ada hubungannya sama itu aja,’ kata Mbak Windy. Gue setuju, namun judulnya masih belum terbayang.
Proses penulisan buku ini pun berlanjut. Seperti biasanya sebelum menulis buku baru, gue temui dulu orang yang akan gue tulis dalam buku ini, untuk meminta izin ditulis. Di antara orang-orang lain, gue juga menemui salah satu mantan pacar yang gue tulis di salah satu bab dalam buku ini. Kebetulan kami saling follow Twitter satu sama lain, gue mengirimkan direct message kepadanya.

‘Apa kabar ?’ tanya gue

‘Baik’, katanya. ‘Nomor kamu ganti ?’

‘Iya’, kata gue.

Lalu gue memberitahukan nomor gue yang baru.
Kami pun mulai Whatsapp-an, dia cerita bahwa pacarnya sekarang ternyata tidak cocok dengan dirinya. Dia cerita bagaimana mereka pernah berantem hebat di tempat umum. Pacarnya ini adalah selingkuhannya dulu, ketika kami masih pacaran.Enggak, gue tidak menyimpan dendam sama mantan gue ini. Beberapa luka bisa sembuh dengan baik seiring berjalannya waktu.

Beberapa hari kemudian mantan gue ini mengajak ketemuan di Toscana, Kemang. Ketika dinner, mantan pacar gue baru mengaku kalau cowoknya gak tahu tentang pertemuan kami. Dia bilang ‘Aku kayaknya salah deh, jadian sama dia.’

‘Maksud kamu?’

‘Aku nyesel’, katanya.

‘Maksudnya nyesel ?’

‘Enggak, enggak apa-apa,’ kata dia, tidak melanjutkan.Gue tahu apa yang sebenarnya dia maksud, tapi gue juga enggan meneruskan. Kami lalu membayar bill, membaginya dua.

‘Jadi gimana ?’Boleh, ya, aku tulis cerita kita di buku ?,’ tanya gue pada saat kami hendak berpisah di depan restoran.

‘Asal namaku disamarin kamu boleh nulis apa aja tentang aku,’ katanya.

Anehnya, setelah pertemuan itu, gue makin akrab dengan mantan gue.Dia sering menelepon gue ketika gue sedang bekerja. Dia jadi sering membalas mention gue di Twitter. Dia jadi sering konsultasi masalah apapun yang sedang dia hadapi dengan gue saat itu. Puncaknya, dia mengajak gue makan malam lagi. Dia bilang ‘kali ini aku yang bayar’.

Kami pun bertemu kembali.

Sama seperti sebelumnya, kami dinner. Di Toscana, kami duduk di meja yang sama, memesan makanan dan minuman yang sama. Dia pun bercerita betapa menyesalnya dia telah mutusin gue. Dia bercerita tetang bagaimana orang kadang melakukan kesalahan dan dia telah belajar dari situ. Dia lalu bilang,’Aku mau ninggalin pacarku buat kamu,’

‘Maksud kamu pacarmu yang dulunya selingkuhanmu dari aku ?Sekarang aku yang mau kamu jadiin selingkuhan kamu?’ tanya gue.

‘Kok, ngomongnya gitu, sih ?’

‘Ya, gimana,’ kata gue, pelan.

Aku udah belajar banyak,’ katanya pelan.

Gue memandangi dia, dalam.

Lucu juga bagaimana nasib bisa bergulir seperti ini. Menulis buku ini mengantarkan guekepada pertemuan saat ini. Kami, berhadap-hadapan. Dua orang yang dulu pernah pacaran, tapi gue nerasa justru berhadapan dengan orang asing, orang yang gue sudah tidak kenal lagi. Obrolan kami, kok, terasa beda. Rasa yang gue dapatkan dengan berduaan bersamanya sekarang pun terasa berbeda.

Gue jadi teringat satu foto di situs Huffington Post. Ceritanya begini, ada seekor koala yang tinggal di New South Wales, Australia. Koala itu berimigrasi dari hutan tempat tinggalnya. Beberapa bulan kemudian, ia kembali ke hutan tempat dia tinggal. Namun, ternyata selama dia pergi, hutan yang pernah menjadi rumahnya ditebang, diratakan dengan tanah oleh para penebang liar. Si Koala kebingungan kenapa tempat tinggalnya tidak seperti dulu. Ia hanya bisa diam, tanpa bisa berbuat apapun. Seorang relawan alam mengambil foto itu. Jadilah foto seekor koala kumal duduk sendirian. Memandangi sesuatu yang dulu sangat diakrabinya dan sekarang tidak lagi dikenalinya.

Sama seperti gue melihat dia sekarang. Patah hati yang gue alami akibat apa yang dulu dia lakukan membuat dia berbeda di mata gue. Gue dulu jatuh cinta pada seorang perempuan cantik, baik dan bisa gue percaya. Namun, setelah semua yang terjadi, dia berubah menjadi orang lain. Gue merasa asing.

‘Kamu dengerin aku gak, sih?’ tanya dia, lagi.

Gue memandanginya, pikiran gue masih berjalan sendirian. Di saat ini gue menyadari, gue tidak mau seperti seekor koala kumal yang pulang ke tempat yang dulu nyaman untuknya, menyadari tempat itu telah berubah, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

‘Ya, apa kamu bilang tadi ?’

‘Aku sekarang udah beda,’ kata dia.

‘Aku juga udah beda,’ kata gue. Lalu gue melanjutkan ‘Dan aku yang sekarang, enggak mau dengan kamu yang sekarang.’

Dia hanya diam saja. Gue juga hanya diam saja. Malam itu, menjadi malam yang terpanjang dalam hidup kami.

Sepulangnya dari restoran, dengan muka kusut gue membuka pintu. Nyokap masih asyik menonton sinetron favoritnya. Gue duduk di sofa, di sebelahnya. Nyokap bertanya,’Kamu kenapa ?’

‘Enggak, abis ketemu dia, Ma,’ kata gue, menyebutkan nama mantan gue itu.
‘Oh,apa kabar dia ?’

‘Baik sih,’ kata gue dengan tidak acuh.
Nyokap melihat ke mata gue, naluri seorang ibu nampaknya membuat dia tahu apa yang bikin gue bersikap beda malam itu. Nyokap lalu bertanya, ‘Dik, kamu tahu ga istilah Mama untuk orang yang sudah pernah merasakan patah hati ?’

‘Apa, Ma ?’

Nyokap menatap mata gue, lalu bilang,’Dewasa.’

Nyokap beranjak ke kamar, meninggalkan gue sendirian. Ada detak jam yang terdengar sayup, ada senyum kecil yang mengembang di bibir. Ada sesuatu yang selesai.

Ya’ itu tadi tulisan dari Radit yang gue kutip dari bukunya “Koala Kumal”, beda banget ya’ tulisan penulis berbakat sama penulis amatiran kayak gue. Dan perkataan dari nyokapnya Radit begitu mengena di hati gue, dan membuat gue dapat belajar dari sakitnya patah hati, bukan cuman diiringi kesedihan dan kehilangan, tapi juga kedewasaan.

Rabu, 06 Januari 2016

"Move On (Pindah Hati Pindah Pribadi)

Ada yang susah move on ? Atau ada yang ingin berubah ?

“Pindah !”

Satu-satunya alasan kenapa gue menulis tulisan ini adalah karena keresahan seorang cewek, temen SMP gue yang pingin “move on”. Bicara soal move on artinya bicara soal pindah, pindah hati. Satu kata dari gue buat move on adalah “BERAT”, sebab melepas masa lalu artinya menempuh hidup baru, dan kehidupan baru itu bukan dijalani tapi diciptakan, sebagaimana perkataan Rangga Almahendra yang diperankan Abimana Aryasatya suami dari Hanum Salsabiela Rais yang diperankan Acha Septriasa dalam film “99 cahaya di langit Eropa (part II)” saat dia berpidato di hari kelulusannya, dia menutup pidatonya dengan mengatakan “masa depan itu bukan untuk ditunggu, tapi diciptakan”, setelah kehidupan baru tercipta barulah kita bisa menjalaninya.

Pindah itu sebuah keharusan, mau enggak mau, suka enggak suka, semua orang harus pindah dari masa lalunya sebab waktu tak pernah berjalan mundur, semua orang harus maju sebagaimana waktu, apapun dan bagaimanapun caranya. Seperti sekawanan kuda zebra di Afrika yang setiap tahunnya berpindah tempat untuk kehidupan yang lebih baik, mereka diburu singa di daratan, lalu kumpulan buaya telah menghadang saat mereka akan menyebrangi sungai, dengan semua resiko itu tak seekorpun dari mereka yang menetap, sebab mereka harus pindah, agar kehidupan dapat terus berjalan.

Raditya Dika di dalam bukunya yang berjudul “Manusia Setengah Salmon” dia menuliskan ;

Sewaktu lagi menulis buku ini, gue mengalami banyak perpindahan.

Gue mengalami pindah hubungan dengan nyokap gue. Seiring dirinya yang semakin tua, hubungan gue dengan dia semakin erat.

Ketika lulus kuliah, gue mengalami perpindahan ke dunia nyata yang semakin sengit. Ketika gue masuk ke dunia nyata, gue mengalami perpindahan cita-cita. Gue juga mengalami pindah rumah, yang tadinya di Blok S sekarang di Cipete. Gue mengalami perpindahan selera, yang tadinya tidak nyaman tinggal di rumah menjadi selalu kangen rumah kalau pergi jauh.

Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara satu perpindahan satu dengan yang lainnya. Kita hidup di antaranya.

Seorang teman pernah cerita, terakhir kali dia kumpul-kumpul sama temannya, dia merasa out of place. Teman-temannya membawa kereta dorong berisi bayi. Sementara temen gue ini dia masih single dan belum punya pacar. Teman-temannya yang lain pada ngomongin cara merawat anak dan popok apa yang pas, sedangkan dia seumur hidup belum pernah megang popok.

Seorang teman lain baru lulus kuliah, dan bapaknya yang sudah tua sering sakit-sakitan. Kerjaan dia sekarang, selain bekerja dari rumah, adalah melakukan baby sitting, nungguin bapaknya di rumah, ngurusin bapaknya mulai dari obat sampai menemani di kamar waktu malam hingga sang bapak bisa tertidur. Dia bilang, ‘Dulu, gue yang diurusin, sekarang gue yang ngurusin bokap’. Peran yang dulu dilakukan oleh bokapnya ke dirinya, sekarang menjadi terbalik.

Pindah juga menyangkut urusan hati.
Seorang teman lain menraktir gue baru-baru ini karena mampu melupakan mantan pacarnya. Ini adalah perjuangan luar biasa bagi dia yang hampir selama dua tahun belakangan masih terus dibayang-bayangi mantan yang meninggal terlalu cepat.

Tidak hanya hal-hal yang tadi, kalau mau dipikir-pikir, bagian-bagian dalam tubuh kita juga pindah. Gerakan peristaltik ketika menelan makanan membuat sarapan pindah dari mulut ke kerongkong dan akhirnya menuju lambung. Sel darah merah berpindah sejak mulai dipompa jantung hingga menyebar ke seluruh bagian tubuh. Bakteri di dalam sistem pencernaan pindah dari usus kecil ke usus besar.

Benda mati juga berpindah-pindah. Mobil pindah setiap hari, debu-debu kecil di rumah terbang ketika ada angin, bahkan dalam skala yang paling kecil elektron berpindah-pindah, berputar mengelilingi proton dan neutron dalam sebuah atom.

Dan…, foto mesra sepasang kekasih bisa pindah dari pigura ke tempat sampah sehabis mereka putus.

Itulah apa yang dituliskan Radit di dalam bukunya. Dari situ gue belajar bahwa hidup memang segala hal tentang perpindahan, enggak cuman sekedar pindah hati, tapi juga perpindahan pribadi, perpindahan gue dari yang enggak pernah sholat jadi gelisah kalau belum ngerjain sholat, yang dulunya siswa sekarang jadi santri, yang dulu nganggap cinta itu adalah luka sekarang nganggapnya karunia, yang dulu rambutnya bisa dijambak sekarang sudah botak, yang dulunya Muhammad Fadhil sekarang menjadi Ahmad Dha’il.

Dan satu lagi perpindahan yang harus gue ciptakan, perpindahan dari maksiat jadi taubat, dari cowok bangsat menjadi cowok taat. Semoga aja, ameen.

Rabu, 30 Desember 2015

Tak Cukup Dengan 3 Shampo

Ternyata bukan cuman Dewa yang 19, sekarang umur gue juga 19. 19 adalah bilangan belasan terakhir, setelah itu gue akan melepaskan masa remaja gue. Tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan, gue enggak tahu definisi dewasa itu apa, dan cara menjadi dewasa seperti apa, sejauh ini gue cuman menikmati hidup, bukan mempelajarinya. Ketika kecil kita ingin jadi cepat dewasa, ketika dewasa kita ingin kembali ke masa kecil, hal ini cukup membingungkan gue, apakah umur yang tua harus menuntut kita untuk menjadi dewasa ? Akui saja, bersifat kekanak-kanakan memang salah, tapi menyenangkan bukan menjadi anak-anak? Hidup ini hanya sekali, kita tidak akan sempat mempelajarinya, kenapa enggak dinikmatin aja ? Menjadi dewasa enggak ada salahnya, bersifat kekanak-kanakan juga enggak ada salahnya, salah itu kalau lo enggak bisa menikmati hidup dengan menjadi diri lo sendiri, entah itu dengan kedewasaan lo atau dengan kekanak-kanakannya lo.

Tapi gue pribadi belajar untuk menjadi dewasa, bukan karena tuntutan usia, tapi memang sudah semestinya, gue udah terlalu letih bergelut dengan hirup pikuk dunia, saatnya belajar untuk menciptakan dunia gue sendiri, dunia yang baru dengan kehidupan yang baru, kehidupan yang lebih tenang tapi bukan diam, yang lembut tapi bukan lemah, yang tegas tapi tidak keras, tak mengalir apa adanya, tapi mengalir melawan arus, tak lagi berbaur, membentengi diri bukan menutupinya, lebih bijak dalam bertindak, lebih perlahan dalam berlisan.

30 Desember tepatnya hri ini gue berulang tahun, sebenarnya gue enggak terlalu suka merayakan ulang tahun gue, dikarenakan saat hari kelahiran gue ada sosok yang mengorbankan nyawa, menumpahkan darah, keringat dan air mata, hanya untuk melahirkan gue, rasanya enggak pantes aja kalau gue bersenang-senang di hari nyokap gue mati-matian melahirkan gue.

Tapi hari ini gue dapat kesan, bukan kejutan ya’ karena gue udah tahu rencana busuk mereka, jadi ini namanya kesan dari teman-teman sekelas gue. Awalnya gue enggak mau ke sekolah hari ini, karena pasti bakal terjadi hal-hal yang tak diinginkan akan menimpa gue, tapi karena hari ini bagi rapot mau enggak mau gue harus tetap berangkat sekolah. Gue berangkat dengan keadaan cuci muka aja enggak pakai mandi, karena bakal sia-sia ujung-ujungnya kotor juga dikarenakan ulah teman-teman gue, sebelum makai sarung, gue pakai celana jeans pendek dengan sabuk yang mengikat kuat celana gue agar senantiasa bertengger di pinggang gue karena gue takut ditelanjangin temen-temen gue, gue makai sarung dan baju koko yang paling jelek yang gue punya, karena gue enggak mau mengotori pakaian-pakaian bagus yang gue punya.

Tiba di sekolah muka-muka tanpa dosa menyambut gue, padahal gue yakin dalam hati mereka berkata “MAMPUS LO HARI INI !”, gue tetap keep calm dan berharap apa yang memenuhi benak gue saat itu enggak terjadi. Sayangnya kenyataan berkata lain, setelah Ustadz membagikan rapotnya dan meninggalkan kelas, gue yang berusaha kabur sudah dicegat sama seorang temen gue, sekarang hati gue yang ngomong “MAMPUS GUE HARI INI !”. Salah seorang temen gue melepas baju gue, ENGGAK ! Gue bukannya mau diperkosa ! Gue mau diceburin ke “kubangan coca-cola kedaluwarsa” (baca postingan coca-cola kedaluwarsa), karena gue enggak mau terjadi kekerasan, gue pasrah, gue lepasin sendiri pakaian gue, sampai yang tersisa cuman celana jeans pendek, gue menyeburkan diri gue sendiri ke kubangan terlaknat itu, seketika badan gue sudah bau sawah. Enggak cukup dengan diceburin, setelah gue keluar dari kubangan itu dan mencoba membersihkan diri gue, tiba-tiba #PLAK! Tangan temen gue mendarat di belakang kepala gue dengan kencangnya disertai dengan pecahnya 2 biji telor ayam,telornya enggak jadi masalah ya’ tapi sakitnya itu lo ! Enggak lama setelah itu taburan tepung terigu dilemparkan tepat ke arah muka gue, masuk ke telinga dan hidung, sekarang upil gue warnanya jadi putih. Setelah badan gue udah kayak adonan kue, tiba-tiba ada yang mengoleskan sambel di area dada gue, sialan gue jadi kayak bakwan ! Di saat semuanya gue pikir hampir berakhir, ternyata belum usai penderitaan gue, dua ember air rendaman buah mengkudu membasahi sekujur tubuh gue, saat itu yang gue rasakan selain basah dan bau adalah GATAL ! Beruntung siraman air mengkudu itu menjadi penderitaan terakhir yang gue dapatkan, setelah itu teman-teman gue pulang dan meninggalkan gue SENDIRIAN, saat itu gue merasa KOTOR ! Sebelum pulang gue harus terjun ke kubangan lagi untuk “membersihkan” tepung, telor dan sambal yang ada di sekujur tubuh gue, setelah itu gue langsung cabut pulang dengan garuk-garuk badan sepanjang jalan, di sepanjang jalan otak gue dipenuhi bayangan kamar mandi gue, rasanya enggak sabar lagi buat berdiri di bawah shower dan membersihkan diri gue yang gue sendiri jijik melihat dan menciumnya.

Sampai di rumah gue langsung melepas semua pakaian gue, dan berlari secepat waria yang kena razia, gue langsung menuju kamar mandi, menyalakan shower dan membersihkan diri. Gue sampai makai 3 macam shampo untuk membersihkan kepala gue, pertama gue makai shampo lifeboy punya orang satu rumah ternyata enggak ngaruh, kedua gue makai shampo metal punya gue pribadi juga enggak ngaruh, sampai gue makai shampo adek sepupu gue yang kemasannya ada gambar “Frozen” juga enggak ngaruh, ya udah gue pasrah ! Lalu berlanjut ke badan gue, gue makai seperempat botol sabun gue tapi badan gue tetap bau mengkudu, gue makai sabun om gue tetap baunya enggak hilang, gue makai sabun batangan, baunya hilang, tapi bau sabunnya yang hilang, bau mengkudunya tetap menyeruak ! Setelah setengah jam lebih di kamar mandi dan bau busuk yang lengket di tubuh gue tetap enggak mau hilang, gue pasrah menerima bau ini harus melekat pada tubuh gue.

Jujur gue enggak suka dengan hal ini, tapi kalau dilihat dari sisi lain, perhatian temen-temen gue atau mungkin emang karena enggak suka sama gue entahlah, mereka menyiapkan ini semua dengan sangat matang, mereka beli tepung sama telor padahal gue tahu mereka semua pada pelit, tapi mereka rela menyisihkan uang mereka hanya untuk melihat gue menderita hahaha, enggak hanya untuk merayakan hari ulang tahun gue, terimakasih buat teman-teman gue yang turut bahagia atas hari ulang tahun gue ini, God Bless You All..!!!

Selasa, 15 Desember 2015

Tips Nyontek (Bahkan buat yang enggak ulangan)

Setelah pulang hujan-hujanan dari pesantren, seolah memberi gue inspirasi untuk menulis. Karena ini adalah masa-masa ulangan tengah semester, jadi gue mau berbagi tips menyontek kepada kalian semua, pelajar-pelajar yang pingin pintar tapi malas belajar, tapi sebelumnya gue mau cerita dulu, gue juga lagi ulangan, mungkin lo pada heran, gue ulangan tapi bisa nulis postingan di blog, apakah gue pintar sehingga enggak perlu belajar ? Enggak ! Anggap aja gue ini santri paling bego di pesantren, dan “bego” itu adalah sebuah AIB yang bener-bener AIB, kalo kita kelihatan jelek, itu bisa dimaklum, tapi kalo udah kelihatan bego, malunya enggak ketolong. Gue emang bego, untungnya gue kreatif, ya’ Tuhan memang Maha Adil ! Kenapa gue dengan pede menyatakan kalau gue kreatif ?! Gue ambil contoh saat ulangan tadi, gue menjawab dengan kreatifitas, bukan dengan kecerdasan, misal tadi ada soal pelajaran “ushul tafsir” pelajaran yang membahas hal ihwal kitab Al-Qur’an, soalnya pakai bahasa Arab, untung gue enggak bego-bego amat, gue ngerti soalnya, tapi enggak tau jawabannya, ketidak tahuan gue ini memunculkan kreatifitas di otak gue, jadi tadi ada soal yang artinya kalu gue terjemahin “apa yang dimaksud dengan ayat faadhil ?” lalu soal selanjutnya “apa yang dimaksud dengan ayat mafdhul ?” gue tau “faadhil” itu artinya lebih dan “mafdhul” itu artinya dilebihkan, tapi gue enggak tahu itu ayat yang seperti apa, jadi gue jawab aja “faadhil adalah ayat yang lebih afdhol dari ayat mafdhul” soal selanjutnya ya’ gue jawab “mafdhul adalah ayat yang tidak lebih afdhol dari ayat faadhil”, lalu setelahnya ada lagi soal yang kalau gue terjemahin artinya “kenapa haram membaca Al-Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab ?” ya gue jawab aja “karena enggak boleh” bener kan ? Emang enggak tepat jawaban kayak gitu, tapi enggak bisa disalahkan, paling enggak gue dapat nilai setengah untuk satu jawaban gue.

Setelah semua soal gue jawab dengan jawaban yang “kreatif” tadi, dengan pedenya gue ngumpul lembar ulangan gue ke meja Ustadz, saat itu gue yang pertama kali ngumpul, setelah ngumpul lembar ulangan gue, gue duduk kembali. Tepat saat pantat gue baru menyentuh ubin (sekolahnya enggak pakai kursi), Ustadz lalu membaca sebuah soal “kenapa haram membaca Al-Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab ? Karena enggak boleh” rupanya Ustadz baca lembar ulangan gue, beliau baca sambil ketawa yang juga disambut tawa oleh peserta-peserta ulangan yang sekelas sama gue, ya’ sekarang semua orang jadi lebih tau kalo gue bego, makanya lo baca blog ini enggak bakalan bikin lo jadi pinter.

Orang bego kok ngasih tips nyontek ? Kalo gue pinter bukan tips nyontek yang gue kasih, tapi les private yang gue kasih ! Oke gue mulai tipsnya yang gue dapat dari pengalaman dan berbagai sumber :

1. Kalo lo anak pesantren dan soal ulangan lo pakai bahasa Arab semua, mau nulis di paha atau kaki takut dosa, TENANG !!! Gue pernah nulis semua mandi-mandi sunnah di betis gue, pakai huruf latin bro ! Ribet amat hidup lo ! Tapi sebelumnya gue saranin buat nyukur bulu kaki dulu, takutnya enggak kebaca saat eksekusi.

2. Kalo lo bukan anak pesantren dan gelisah, bingung mencari cara yang sangat amat aman dalam menyontek, sekali lagi gue bilang TENANG !!! Ambillah kertas selembar, lalu tulis bahan contekan yang kiranya lo perlukan, tulis dengan menggunakan BAHASA ARAB, lo bisa dengan leluasa membuka contekan lo, dan saat lo ketahuan pengawas, bilang aja kalau itu adalah DO’A SEBELUM ULANGAN.

3. Kalalu lo punya cukup nyali, lo bisa lakukan cara ini, letakkan contekan di tempat yang tidak dicurigai pengawasnya, misalkan di jidad pengawasnya, kalo pengawasnya botak kayak Mario Teguh, kalau pengawasnya enggak botak ya udah, itu derita lo !

4. Buat cewek yang biasa bikin contekan di paha, itu terlalu bahaya ! Sebab bukti sulit dihilangkan apabila lo ketahuan nyontek, jadi tulislah contekan di paha temen lo, biar saat ketahuan nyontek, lo bisa nyalahin temen lo ! Licik ? Tapi hidup memang kejam !

5. Buat cowok yang juga mau ikut-ikutan nulis contekan di paha tapi enggak bisa karena susah liat contekannya dikarenakan cowok makai celana, TENANG !!! Lo datang aja ke sekolah pakai sarung, kalo lo ditanya pengawasnya kenapa makai sarung, bilang aja “SUNATAN SAYA BELUM KERING PAK !”

Kayaknya tips nomor 5 udah cukup lucu buat jadi ending tips ngaco dari gue ini, gue kasih tau lo semua ya’ dan renungi kata-kata gue “menyontek itu salah ! Kenapa kita menyontek ?! Karena fakta di lapangan, yang dipandang selalu nilai, bukan akhlaq” bukan begitu ? (ada pesan moralnya, gokil !)

Minggu, 06 Desember 2015

"BERAKHIRNYA MASA JOMBLO"

Tepatnya pada tanggal 19 November kemaren, saat sebentar lagi adzan isya berkumandang, gue melepaskan status jomblo gue yang sudah gue pegang selama 3 kali ramadhan, 3 kali lebaran, 3 kali 17’an, gue sudah melalui masa-masa ngenes gue sebagai seorang jomblo, masa di mana semua cewek-cewek mengucilkan gue, bahkan menganggap kalo gue ini enggak pernah ada, setiap gue nge’chat cewek selalu enggak dapat balasan, pun dapat balasan, cuek mampus ! Ngajak kenalan kayak mau ngajak terjun ke jurang, susahnya setengah mati ! Ya’ gue bukannya enggak mau usaha ya’, tapi kalo cewek udah enggak “open” ya’ gue mundur. Gue tipikal orang yang pesimis, gue selalu menasehati diri gue “sadar diri sebelum percaya diri”, jadi gue enggak akan berusaha lebih untuk mendapatkan cewek yang emang udah enggak “open” sama gue, karena sikap cewek-cewek yang gue gebet selama menjomblo ini sudah membentuk karakter baru di dalam diri gue, gue jadi kuper, minder, gue merasa gue ini hina banget, enggak ada yang menginginkan gue, itulah kesimpulan yang bisa gue ambil dari sikap cewek-cewek terhormat yang penuh dengan kemuliaan yang selama ini gue gebet tapi ujung-ujungnya gagal jadian.

Dari banyaknya pengalaman gagal jadian itu enggak satupun penyebab gagalnya adalah karena gue ditolak, enggak pernah, selalu hal-hal lain yang enggak biasa. Dulu gue pernah nge’gebet cewek, si doi baik banget sama gue, selalu nasehatin gue segala macam, bahkan dia duluan yang mengungkapkan perasaannya, dia bilang kalau dia sayang sama gue, tapi dia enggak mau pacaran, entah apa maksudnya, tapi itu membuat gue berhenti untuk mengharapkannya, karena enggak cuman cewek, cowok juga butuh kepastian, gue enggak mau sayang-sayangan tanpa ada kejelasan suatu hubungan.

Pernah juga gue deket sama seorang cewek, gue jatuh cinta sama cewek ini, dia ramah banget sama gue, dia ngerti banget sama gue, kami punya banyak kesamaan, terutama pada selera musik. Awal gue deket sama dia, waktu itu dia nulis sebait lirik dari lagu “Gun and Roses” di status BBM’nya, gue yang kaget melihat ada cewek cantik berhijab, tapi dengernya lagu-lagu rock classic, gue langsung tertarik, dari situ gue PDKT lewat BBM selama beberapa minggu sampai pada akhirnya gue mau ngajak ketemuan, lalu dia bilang “Maaf, bukannya sok alim, tapi aku menghindari banget pertemuan sama cowok” gue langsung lemes ketika dia bilang gitu, diajak ketemuan aja enggak mau, apalagi pacaran, lagi-lagi gue harus mundur.

Dan yang paling tragis adalah waktu gue deket sama seorang cewek, gue kenal dia dari facebook, tapi dia tahu banyak kehidupan nyata gue, gue selalu kirim-kiriman message sama dia, orangnya lucu, mudah menerima lawakan-lawakan gue yang ringan, lama sudah masa PDKT, ternyata dia duluan yang nembak gue. Dulu gue pernah ngomong ke dia “cewek itu kayak ujian nasional, lembar jawaban dibagi, tapi lembar soal enggak dibagi, tapi tetap harus dijawab” saat itu gue cerita ke dia soal cewek yang enggak mau ngomong perasaannya ke cowoknya, tapi nuntut cowoknya harus mengerti dia, lah masalahnya aja enggak tahu, gimana mau ngerti kan ?. Waktu itu gue curhat ke cewek ini, tentang susahnya dapetin cewek, dia bilang “ada kok cewek yang mau sama lo” gue membantah perkataannya, tapi dia bilang “ada kok, gue mau kok jadi pacar lo, lo mau enggak jadi pacar gue” saat itu gue rada enggak percaya dia ngomong kayak gitu, lalu dia bilang lagi “gue udah ngasih lembar soal nih, sekarang gampang kan lo ngejawabnya”, saat itu gue nolak dia, karena enggak lama setelah itu dia bakal pindah ke luar kota, dan jujur gue orang yang sangat tidak sanggup dengan LDR, gue tipikal orang yang enggak bisa jauh dari orang yang gue sayang, dulu gue pernah nangis di rumah pacar gue(yang sekarang udah jadi mantan) di hadapan teman-temannya, cuman gara-gara dia mau pergi ke pantai, lebay ? Bisa dibilang gitu, tapi segitulah kemampuan hati gue, yang selalu kalah dengan “jarak”, dan cewek yang nembak gue itu sekarang udah nikah dan hidup bahagia selamanha.

Hingga pada akhirnya, gue bertemu dengan seorang cewek, Nisa Ramadhayanti, orang yang suka baca-baca blog gue, kali ini namanya malah mengisi blog gue, terlebih lagi mengisi hati gue. Dia emang enggak bisa mengatasi masalah gue yang lagi “susah” buat nulis, tapi kehadirannya bisa membuat hati gue jatuh cinta lagi, dan itu indah banget.

Setelah PDKT dengannya beberapa lama, pada akhirnya gue memutuskan untuk mengakhiri masa PDKT ini. Waktu itu malam jum’at, harusnya dia pergi ke pengajian, tapi gue tetap ngotot buat ngajak dia ketemuan, dan dia menerima ajakan gue. Malam sebelumnya gue udah nyiapkan puisi yang bakal gue kasih buat nembak dia, esoknya setelah pulang sekolah gue ke percetakan buat nyetak puisi yang gue buat kemaren, persis pas gue nyampe malah mati lampu, gue tungguin setelah beberapa jam lampu enggak nyala, gue putuskan buat nge’Gym dan pulangnya baru gue cetak puisinya, gue nyetak puisinya karena tulisan gue enggak lebih bagus dari tulisan anak SD, gue enggak mau gara-gara tulisan tangan gue, moment nembak gue jadi rusak gara-gara cewek gue enggak bisa baca tulisan gue.

Malam pun tiba, gue siap-siap dari jam 6 sore, selesai sholat maghrib gue langsung berangkat. Sesampainya di rumah makan yang kebetulan bersebrangan dengan masjid tempat cewek gue pengajian. Waktu itu dia nungguin di depan masjid dan minta gue untuk menjemputnnya karena dia enggak berani nyebrang, gue pun menjemputnya dan cuman melihat dia dari jauh, karena pakaian gue saat itu enggak membaur dengan orang-orang yang pergi ke masjid, dari jauh gue udah bisa mengenal atau lebih tepatnya merasakan kalau itu adalah dia memakai baju berwarna kuning dan pada bagian tangannya berwarna putih senada dengan kerudung yang dia kenakan, padahal sebelumnya gue nggak pernah ketemu dia sama sekali, tapi gue memberanikan diri untuk melambaikan tangan gue agar dia menghampiri gue, dan ternyata emang benar kalau itu dia. Saat nyebrang gue rada ragu buat menggandeng tangannya, tapi hati gue berusaha banget buat melindungi dan menjaganya.Saat sudah di rumah makan, gue pun duduk berhadapan dengan dia, gue mesan makanan, waktu itu 2 ayam goreng dan 2 es teh, sambil menunggu makanan, gue ngobrol banyak ke dia, dia selalu menertawakan apa yang guebicarakan, dan gue terus menerus ngelucu di hadapannya supaya gue selalu bisa melihat senyumannya, dan gue mau nunjukkin betapa mudahnya gue buat membahagiakan dia. Saat selesai makan, gue kasih puisi yang udah gue cetak tadi, puisi itu gue masukin ke dalam kotak panjang berwarna putih yang gue hias dengan pita berwarna pink menyala, lalu dia buka kotaknya dan dia baca. Kertas yang berisi puisi itu menutupi seluruh mukanya, sehingga gue enggak bisa melihat seperti apa ekspresinya saat membaca puisi gue, cukup lama kertas itu menutupi mukanya, gue yakin dia udah selelsai membaca, tapi dia menutupi mukanya untuk memikirkan sesuatu, memikirkan jawaban apa yang harus dia beri ke gue, atau memikirkan habis ini dia harus ngomong apa. Kertas itu lalu dia pegang ke samping sehingga terlihatlah matanya yang berbinar karena ada air mata yang tertahan di sana, walau begitu dia tetap tersenyum sambil menanyakan baris terakhir puisi gue yang berisi sebuah pertanyaan “Bersediakah engkau ?” dia nanya “Ini maksudnya apa ? Bersediakah engkau terus tanda tanya” lalu gue bilang “kamu pasti ngerti yang ku maksud”, lalu dia bilang “jawabannya mau sekarang atau kapan ?”, “gue enggak tahu umur gue sampai kapan” sahut gue, lalu dia bilang “nanti jawabannya pas udah nyebrangkan aku ke masjid”, saat itu gue mikir bakalan ditolak, karena kalau dia nolak gue saat itu udah pasti gue enggak bakal nyebrangkan dia. Karena udah adzan isya, gue menyudahi pertemuan kami, gue bayar makan ke kasir, setelah itu gue nyebrangkan dia, kali ini gue beranikan diri gandeng tangannya, karena gue merasa saat itu bakal ditolak, ya kalau enggak jadi pacarnya setidaknya gue pernah genggam tangannya, pas udah sampai di sebrang gue nanya ke dia “jadi gimana jawabannya ?” dan enggak gue sangka, dia menerima gue, gue pun memutuskan untuk pulang setelah tos ala Bay Max dan Hiro dan dia ketawa dengan hal itu.Kehidupan memang unik, orang yang biasa baca blog gue, sekarang jadi bagian dalam tulisan blog gue, jadi bagian dari hidup gue, bagian dari diri gue, bagian dari kebahagiaan gue.

Minggu, 04 Oktober 2015

Nebulizer Untuk Penderita Asma (INFO KESEHATAN, BUKAN JUALAN)

Tulisan ini tercipta atas dasar keprihatinan gue terhadap korban kabut asap yang menimpa Sumatra dan Kalimantan, tidak terkecuali tempat tinggal gue. Salah satu korban kabut asap yang ada di sekitar gue adalah bokap, beliau memang memiliki penyakit asma, dan penyakit bokap ini semakin parah dengan adanya kabut asap ini, tapi bokap gue salah satu pengidap asma yang beruntung sebab memiliki sebuah alat pernafasan untuk orang asma namanya “Nebulizer”. Nah’, masalahnya banyak pengidap asma yang tidak tahu tentang adanya alat seperti ini, jadi gue akan ngasih tahu buat lo semua dan gue harap lo juga kasih tahu ke orang-orang terdekat lo yang mungkin juga salah satu pengidap asma, agar mereka dapat “bernafas lebih lega”. Tapi sebelum membahas Nebulizer, gue akan bahas dulu segala hal tentang asma yang gue dapat dari berbagai sumber.
Asma adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami masalah pernapasan seperti sulit bernapas, batuk, dan mengalami mengi saat kambuh. Penyebabnya adalah saluran napas atau bronkus yang berperan dalam proses pertukaran udara diparu-paru sangat sensitif dan mudah mengalami pembengkakan (inflamasi) daripada pada orang normal. Kesulitan bernapas akibat asma pada setiap orang juga berbeda dan umumnya bisa dikendalikan dengan baik.
Gejala Asma
Seperti yang disebutkan di atas bahwa paru-paru seorang penderita asma memiliki kecenderungan mengalami radang sehingga mengganggu proses pernapasannya. Hal ini disebabkan oleh penyempitan saluran napas, kontraksi otot paru, hingga pengeluaran dahak yang akhirnya mengakibatkan gejala gangguan pernapasan seperti dada yang terasa sesak, batuk-batuk, sulit bernapas, hingga mengalami mengi. Penyebab pasti paru-paru penderita asma begitu mudahnya mengalami radang sampai saat ini masih belum diketahui namun faktor keturunan, kelahiran prematur, terlahir dengan berat badan kurang dari 2 Kg, atau sering terpapar asap rokok saat masih kecil dapat menyebabkan seseorang beresiko menderita asma.

Gejala asma yang muncul secara tiba-tiba dan memburuk secara signifikan dikenal sebagai serangan asma. Serangan asma yang parah dan memperburuk kondisi seseorang bisa saja memerlukan perawatan segera di rumah sakit karena dapat membahayakan nyawa meskipun jarang terjadi. Sedangkan pada penderita asma menahun (kronis), radang saluran napasnya beresiko bersifat permanen karena radang yang terjadi secara berulang sehingga perlu pengendalian oleh bantuan dokter. Adapun gejala asma antara lain:
  • Batuk yang terjadi di awal pagi atau malam hari.
  • Kesulitan bernapas hingga membuat penderitanya mangap-mangap.
  • Dada terasa sesak.
  • Mengi, atau suara yang khas akibat udara melalui saluran napas yang telah menyempit.
  • Munculnya gejala asma setelah mengalami aktivitas fisik atau terpapar dengan alergen.
Faktor Pemicu Penyakit Asma
Pemicu yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit asma beragam dan berbeda pada setiap orang tetapi yang pasti pemicu ini adalah segala hal yang dapat menyebabkan iritasi pada saluran napas seperti:
  • Alergen, seperti bulu hewan, tungau debu, dan serbuk sari.
  • Infeksi paru-paru dan saluran napas seperti disebabkan oleh virus influensa.
  • Efek samping obat-obatan seperti obat anti inflamasi non steroid (AINS) seperti aspirin dan ibuprofen.
  • Iritasi udara oleh polusi seperti debu, asap kendaraan, rokok, atau pabrik.
  • Faktor cuaca, seperti cuaca dingin, lembab, dan berangin, atau pada saat terjadinya perubahan suhu ekstrim dari panas ke dingin atau sebaliknya secara tiba-tiba
  • Aktivitas fisik seperti berolah raga berat
  • Kondisi ruangan tempat beraktivitas, seperti ruangan lembab berjamur, bahan kimia dari cat tembo, atau debu dari karpet.
  • Stres berlebih atau tertawa terbahak-bahak.
  • Alergi makanan tertentu yang disebut juga sebagai reaksi anafilaksis. Contohnya adalah penderita asma yang alergi terhadap makanan laut seperti udang atau kepiting. Reaksi anafilaksis dapat memicu serangan asma yang lebih buruk pada penderitanya.
Pengobatan penyakit asma
Pengobatan penyakit asma sampai saat masih dalam bentuk pengendalian asma dalam jangka panjang untuk memperbaiki kualitas hidup penderitanya sehngga dapat menjalani aktivitas tanpa takut mengalami serangan asma karena obat asma sendiri belum ditemukan. Obat-obatan yang tersedia hanya untuk mengatasi gejala asma atau mencegah timbulnya serangan asma.

Obat yang bekerja untuk mengatasi gejala asma disebut short-acting beta2-agonist atau beta2-agonist yang bekerja cepat dan dapat melemaskan otot-otot di sekitar aliran napas yang sebelumnya menyempit menjadi terbuka lebar sehingga penderita asma yang mengalami serangan asma dapat bernapas kembali dengan mudah. Contoh obat-obatan golongan ini antara lain: terbutaline dan salbutamol. Sedangkan untuk obat yang dapat mencegah serangan asma tersedia dalam obat-obatan golongan kortikosteroid inhalasi seperti: budesonide, beclometasone, mometasone, dan fluticasone. Obat-obatan ini biasanya tersedia dalam bentuk inhaler (obat hirup) atau disertai dengan spacer sehingga obat dapat langsung menuju paru-paru.
Hidup dengan asma
Meskipun asma dapat menyerang kapan saja dan dimana saja, namun penyakit ini dapat dikendalikan dengan menerapkan disiplin dalam penanganan dan pencegahan sesuai dengan konsultasi dokter. Oleh karena itu apabila anda secara kebetulan seorang penderita asma atau hidup dengan orang yang hidup dengan asma maka anda dapat melakukan beberapa langkah seperti:
  • Mengenali dan menghindari pemicu asma.
  • Mengikuti rencana penanganan asma Anda yang dibuat bersama dokter.
  • Mengenali serangan asma dan mengobati secepatnya.
  • Menggunakan obat-obatan asma yang disarankan oleh dokter secara teratur.
  • Memonitor napas Anda.
  • Disarankan untuk melakukan vaksinasi influenza dan pneumonia untuk mencegah munculnya komplikasi akibat serangan asma.
  • Jika penggunaan inhaler pereda reaksi cepat makin meningkat, segera konsultasikan kepada dokter agar rencana penanganan asma Anda disesuaikan kembali.


Gejala Awal Asma
Asma biasanya ditunjukkan dengan berbagai gejala awal yang berbeda. Semua penderita bisa mengalami gejala secara bersamaan ataupun ketika sedang terserang penyakit lain. Berikut ini adalah berbagai macam gejala asma yang bisa dilakukan untuk deteksi dini. Jika semua gejala semakin berat maka sebaiknya lakukan konsultasi dengan ahli medis.
  • Gangguan tidur yang terus menerus terjadi dan akan terasa gelisah
  • Nafas menjadi kurang nyaman terutama karena sesak nafas atau nafas yang berat
  • Diiringi dengan batuk kecil yang selalu terjadi setiap malam selama beberapa hari
  • Tubuh terasa lebih lelah dan mudah capai
  • Tubuh mudah lelah ketika setelah melakukan berbagai aktifitas pada siang hari
  • Depresi, sedih, dan mudah tersinggung
  • Sakit pada tenggorokan, hidung meler, hidung tersumbat dan semua gejala seperti serangan influenza
Pengobatan Asma Berdasarkan Jenisnya
Asma memang menjadi penyakit yang sangat menganggu dan pada tahap tertentu bisa menyebabkan bahaya. Asma memang harus diobati untuk meringankan sesak nafas dan gangguan pernafasan saat serangan asma. Namun cara untuk mengobati asma telah dikembangkan dengan berbagai jenis pengetahuan. Salah satunya adalah cara mengobati asma berdasarkan penyebab asma atau tipe asma.
Berikut ini adalah berbagai jenis tipe asma dan cara untuk mengobatinya :
Salah satu jenis asma yang sangat umum dan banyak diderita oleh lebih dari 60% penduduk di dunia adalah asma karena alergi. Asma ini dapat muncul karena ada penyebab alergi atau allergen yang memicu terjadinya asma. Beberapa jenis penyebab alergi antara lain karena debu, jamur, serbuk sari pada bunga,bulu binatang (seperti bahaya bulu kucing), asap, bau yang kuat dan kondisi udara seperti dingin atau panas. Orang yang memiliki alergi karena masalah ini harus menghindari semua jenis allergen.
Gejala asma yang disebabkan karena alergi pada umumnya sama seperti jenis asma lainnya seperti :
  • batuk
  • sesak nafas
  • tekanan yang kuat pada dada
  • nafas yang cenderung lebih cepat
Cara mengobati asma karena alergi adalah dengan memakai perlindungan khusus seperti memakai masker, baju hangat dan semua hal yang disesuaikan dengan jenis alergi.
Pengobatan Asma Secara Alami
Berbagai jenis obat asma biasanya diberikan oleh dokter dalam jangka waktu yang agak lama, kepada penderita asma. Namun pemakaian obat jangka panjang juga akan menyebabkan beberapa resiko kesehatan yang lain. Di bawah ini, terdapat berbagai cara mengobati asma dengan jenis obat alami yang efektif untuk menyembuhkan amsa, mengurangi gejala asma dan menjadi terapi untuk mengatasi gangguan asma.
1. Ramuan Bawang Putih
Bawang putih adalah obat asma yang sangat manjur terutama untuk asma tahap awal. Bawang putih bisa membantu organ pernafasan agar menjadi lebih lega dan mengurangi cairan lendir dalam organ pernafasan. Cara penggunaannya adalah :
  • rebus 2 siung bawang putih dalam 100 ml air
  • Minum air rebusan ketika sudah dingin
  • Sebaiknya minum ramuan ini saat malam hari
Selain itu, bawang putih juga berguna sebagai makanan penurun darah tinggi yang aman.
2. Jahe
Jahe adalah sejenis tanaman rimpang dengan aroma khusus. Jahe telah terbukti bisa meringankan gejala sesak nafas dan mengurangi peradangan yang terjadi pada saluran pernafasan. Jahe bisa menjadi obat alami untuk semua jenis asma dengan berbagai jenis penyebab. Cara penggunaanya adalah :
  • Rebus beberapa ruas jahe segar yang baru dipetik
  • Hindari memakai jahe yang sudah disimpan lama
  • Minum air rebusan jahe saat masih hangat
3. Kopi
Meskipun sebagian besar bahaya kopi tidak baik untuk kesehatan, namun kopi bisa menjadi minuman yang sangat membantu perawatan asma. Anda bisa mengkonsumsi kopi hitam pahit tanpa gula untuk menangkal serangan asma. Kandungan kafein dalam kopi bermanfaat untuk menghilangkan semua gangguan pernafasan dan melegakan saluran pernafasan. Meskipun kopi bisa digunakan untuk mengobati asma, namun tidak disarankan untuk selalu mengkonsumsi kopi, mengingat bahaya kafein di dalamnya tidak baik untuk tubuh.
4. Ramuan Bawang Bombay
Tahukah anda, bahwa bawang bombay adalah bumbu yang sangat ampuh untuk mengatasi serangan asma. Bawang bombay menganding zat anti inflamasi yang dapat mengurangi peradangan pada saluran pernafasan. Bawang bombay juga dapat menurunkan peradangan yang terjadi pada paru-paru. Anda bisa mengkonsumsi bawang bombay mentah untuk mengobati asma.
5. Madu
Madu mengandung zat alami yang bisa membantu melegakan saluran pernafasan bagi orang yang terkena asma. Alkohol dalam madu, memiliki salah satu zat yang bersifat menenangkan rongga pernafasan. Selain itu madu juga mengandung nutrisi yang penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh dan menghindari berbagai jenis penyakit lain. Cara penggunannya  adalah :
  • Siapkan satu sendok teh madu
  • Tambahkan sedikit kayu manis bubuk dan larutkan
  • Anda bisa mengkonsumsi madu secara langsung atau melarutkannya dalam air hangat.
6. Senam Pernafasan
Salah satu metode lain yang dikenal untuk mengurangi gejala dan serangan asma adalah senam pernafasan. Senam ini dilakukan untuk melatih organ paru-paru agar bisa memiliki kapasitas yang normal. Berbagai gerakan senam bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan, membuat pikiran menjadi santai dan menghindari penderita dari stres.
7. Akupuntur
Akupuntur adalah salah satu jenis metode perawatan asma yang dikenalkan oleh China. Berbagai jenis titik tubuh yang berhubungan dengan rongga pernafasan akan diterapi dengan jarum. Beberapa orang ternyata juga bisa sembuh dengan terapi akunpuntur, namun harus dilakukan dengan rutin.
Pencegahan Asma
Asma memang bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak dan orang tua. Namun bukan berarti kita tidak bisa melakukan upaya untuk mencegah agar tidak terkena asma. Banyak hal positif yang bisa kita lakukan untuk terhindar dari asma. Berikut ini adalah berbagai langkah pencegahan asma :
  • Menjaga kondisi lingkungan – Jika sudah memiliki alergi terhadap debu maka buatlah lingkungan rumah atau tempat kerja menjadi bersih –  Hindari penyebab asma seperti debu dan selalu gunakan masker untuk melindungi saluran pernafasan dari debu.
  •  Gunakan pendinin udara (AC) – Jika tinggal dalam lingkungan yang terlalu lembab, maka gunakan pendingian udara atau AC. AC dapat membuat lingkungan menjadi lebih nyaman dan terhindar dari paparan debu, jamur dan penyebab asma.
  • Hindari memelihara hewan- Hewan seperti anjing dan kucing memang bisa menjadi teman yang sangat setia. Tapi jika memiliki alergi terhadap bulu binatang maka jangan memelihara binatang dalam lingkungan rumah.
  • Olahraga secara teratur – Olahraga adalah salah satu cara untuk membuat badan tetap sehat dan menghindarkan tubuh dari resiko asma. Berbagai jenis olahraga yang sangat baik untuk menghindari dari serangan asma adalah renang, lari dan senam.
  • Jaga berat badan –  Memiliki berat badan yang ideal dan tidak kegemukan akan menghindarkan tubuh dari asma. Selain itu, kelebihan berat badan atau obesitas, sangat mempengaruhi kesehatan tubuh.
  • Hindari rokok dan alkohol – Bahaya merokok dan alkohol bisa menjadi pemicu asma karena mengandung zat kimia khusus yang bisa masuk ke tubuh dan menyerang organ pernafasan.
15 Hal yang harus kita ketahui tentang Asma | fakta-fakta dan opini mengenai Asma yang berhasil kami rangkum, semoga bermanfaat :
  • Asma adalah salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di dunia . 
  • Organisasi kesehatan dunia WHO  memperkirakan sekitar 235 sampai dengan 300 juta orang di dunia, saat ini sedang menderita asma;
  • Diperkirakan juga bahwa asma adalah penyebab sekitar 1 dalam setiap 250 kematian di seluruh dunia. Tingkat kematian tersebut disebabkan oleh perawatan medis jangka panjang yang tidak memadai dan keterlambatan menerima bantuan saat mengalami serangan yang sebenarnya dapat dicegah;
  • Negara Afrika Selatan ternyata berada di peringkat ke-25 di seluruh dunia dalam jumlah penderita asma ( diperkirakan 8,1 % dari segala usia );
  • Dilaporkan bahwa antara tahun 1980 sampai 1997 terdapat penurunan konstan dalam kematian karena penyakit asma di Afrika Selatan dan penurunan episode asma yang hampir fatal pada  anak di Cape Town. Faktor yang mungkin menjadi penyebab atas penurunan kematian tersebut adalah meningkatnya akses ke perawatan medis dan pengobatan asma akut, edukasi tentang asma dan penggunaan inhalasi kortikosteroid;
  • Dalam beberapa dekade terakhir, Asma lebih sering menyerang anak-anak dan orang dewasa di seluruh dunia . Hal ini berhubungan dengan sensitisasi atopik (hipersensitivitas alergi) dan terjadi karena meningkatnya pula gangguan alergi yang lain seperti misalnya eksim dan rhinitis;
  • Banyaknya penderita asma meningkat karena gaya hidup urban masyarakat dan adopsi gaya hidup Barat . Dengan perkiraan peningkatan proporsi penduduk urban dunia dari 45% menjadi 59 % pada tahun 2025 , diperkirakan akan ada tambahan 100 juta orang penderita asma pada saat itu;
  • Kematian karena asma akan meningkat dalam 10 tahun ke depan jika tindakan pengobatan tidak dilakukan;
  • Asma terjadi di semua negara terlepas dari tingkat perkembangan. Lebih dari 80% kasus kematian asma terjadi di Negara yang berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah;
  • Asma adalah penyakit kronis yang ditandai dengan serangan sesak napas berulang-ulang. Tingkat keparahan dan frekuensi dari orang ke orang memiliki tingkatan yang berbeda-beda;
  • Gejala asma bisa terjadi beberapa kali dalam satu minggu terhadap seorang individu yang menderita asma. Penggunaan in hale bisa mengurangi jumlah penderita asma yang meninggal dunia karena asma;
  • Penyakit asma adalah penyakit kronis paling umum yang banyak terjadi pada anak-anak;
  • Faktor paling kuat yang menyebabkan serangan asma terjadi pada penderita asma adalah, tungau, debu, polusi, bulu hewan, serbuk sari, asap tembakau, dan jamur;
  • Pemicu asma bisa diakibatkan udara dingin, kondisi emosional yang mudah marah atau mudah takut, dan latihan fisik;
  • Penyakit asma jarang terdiagnosis dan kurang perawatan sehingga memberikan efek buruk pada penderitanya.
Nah itu tadi adalah semua hal tentang asma yang gue dapat dari internet, dan kali ini gue akan membahas alat bantu pernafasan untuk penderita asma yaitu “Nebulizer”.
Nebulizer merupakan alat yang akan mengubah obat-obatan asma dari bentuk cairan (liquid) menjadi aerosol, sehingga dapat dengan mudah dihirup ke dalam paru-paru, seperti halnya bernapas biasa. Nebulizer biasanya cukup efektif digunakan untuk balita dan anak kecil, atau untuk penderita asma yang kesulitan menggunakan inhaler.
Banyak jenis obat-obatan asma yang bisa digunakan dengan nebulizer, baik itu untuk menghadapi serangan asma ataupun untuk mengontrol gejala-gejala asma. Jenis nebulizer ada yang berupa model rumahan/tabletop dan ada pula yang berupa portable (menggunakan baterai), sehingga lebih mudah untuk dibawa.
Umumnya pasien asma tidak membutuhkan nebulizer. Metode lain yang lebih umum adalah dengan menggunakan inhaler, dengan metode kerja yang kurang lebih sama dengan nebulizer namun lebih mudah untuk digunakan.
Bagaimana Cara Menggunakan Nebulizer?
Untuk menggunakan nebulizer, anda harus mempersipkan:
  • Obat asma yang diberikan oleh dokter dengan dosis yang jelas
  • Nebulizer cup (cangkir tempat anda memasukkan obat)
  • Masker atau corong mulut
  • Kompresor udara
Berikut adalah langkah-langkah dasar untuk mempersipkan dan menggunakan nebulizer:
  • Bersihkan tangan anda sebelum menggunakan nebulizer
  • Isi nebulizer cup dengan obat yang telah diresepkan oleh dokter
  • Hubungkan corong atau masker ke nebulizer cup
  • Hubungkan selang dari kompresor ke nebulizer cup
  • Letakkan corong atau masker ke mulut, lalu bernapaslah dengan mulut (jika menggunakan corong) hingga obat dalam nebulizer cup habis. Biasanya obat dalam cup akan habis setelah 5-10 menit.
  • Setelah obat habis, bersihkan nebulizer cup dan corong atau masker dengan air, lalu keringkan untuk digunakan pada pengobatan berikutnya.
Tips:
  • Sebelum menghirup obat, posisikan duduk dengan dengan tegak di kursi yang cukup nyaman.
  • Bernapaslah dengan pelan dan dalam. Jika bisa, berikan jeda (menahan napas) 2-3 detik sebelum menghembuskan napas.
  • Selama proses berlangsung, jika obat menempel pada sisi nebulizer cup, anda bisa sedikit mengguncang pelan (menggunakan jari) cup agar obat (cairan) mengalir turun.
  • Anak kecil biasanya akan lebih nyaman jika menggunakan masker daripada corong. Menggunakan masker membuat pasien dapat bernapas dengan normal melalui hidung ataupun mulut.
Menggunakan nebulizer jenis portable kurang lebih sama dengan cara di atas, hanya saja anda tidak perlu mencolok nebulizer ke listrik untuk menjalankannya, karena alat portable menggunakan baterai. Model portable umumnya cukup kecil sehingga bisa dipegang selama penggunaan/pengobatan berlangsung.
Konsultasikan dengan dokter anda mengenai obat, dosis ataupun cara penggunaan nebulizer yang tepat, khususnya pada saat pertama kali menggunakan alat tersebut.



Nebulizer bisa didapat di toko-toko yang menjual alat kesehatan, kalau lo domisili di Banjarmasin dan sekitarnya dan lo kesusahan untuk mencari alat ini, gue bisa bantu lo, hubungi aja gue lewat twitter atau instagram : @AHMADDHA_IL atau facebook gue Ahmad Dha’il.







Contoh Nebulizer :
Nebulizer Normal
Nebulizer Portable (bisa dicharge)
Nebulizer anak




 




Rabu, 30 September 2015

Sebuah Pencerahan Dari Raditya Dika

“Menulis”, entah sejak kapan gue menulis, seingat gue saat itu gue cuman menatap mata seorang cewek lalu bermunculan rangkaian kata-kata indah di kepala gue yang enggak bisa gue ungkapkan dengan lisan, hanya bisa tertuang lewat tulisan. Sejak saat itu otak gue berubah menjadi rahim, mengandung miliaran huruf, jutaan kata, ribuan kalimat yang siap gue lahirkan, entah itu jadi puisi, pantun, materi standup comedy, atau tulisan enggak jelas kayak gini.
Secara teknis gue enggak menulis, lebih tepatnya mengetik, cuman gue sebut menulis karena apa yang gue ketik itu namanya “tulisan”. Apa yang gue tulis adalah keresahan, kegelisahan, terkadang pemikiran, atau sekedar bualan, apapun itu yang gue tulis selalu melalui proses, sebuah pemikiran tentang bagaimana dan seperti apa cara mengungkapkannya, pemilihan diksi yang tepat, bagaimana agar tulisannya menjadi menarik, bagaimana membuat pembaca merasa enggak puas kalau enggak baca tulisannya sampai habis (sekalipun enggak punya pembaca), bahkan penempatan titik (.) dan koma (,) pun menjadi suatu hal yang harus dipikirkan.
Jujur gue enggak ngerti bagaimana caranya menulis yang benar, menulis yang sesuai etika bahasa Indonesia, gue cuman menulis begitu aja apa yang pingin gue tulis. Gue juga enggak berharap tulisan gue ada yang membaca, sebab tujuan gue menulis bukan itu, walaupun sampai saat ini gue juga belum mengetahui apa tujuan gue menulis. Gue hanya menulis apa yang enggak bisa gue ungkapkan, ketika mata terlalu lelah untuk menangis, ketika lidah terlalu kaku untuk marah, gue menulis. Lalu gimana kalau gue bahagia ? Entahlah seperti apa mengekspresikan kebahagiaan, sebab gue belum tahu bahagia itu seperti apa, kadang orang menangis saat bahagia, kadang orang teriak, kadang orang tersenyum, hal itu membingungkan gue tentang arti kebahagiaan dan seperti apa menyikapinya, rasanya bila itu terjadi pada gue, mungkin gue enggak akan menulis, sepertinya kebahagiaan tak dapat terungkapkan lewat kata-kata.
Tapi ada juga kalanya gue enggak bisa menulis, ketika pikiran menyempit padahal nalar melayang jauh, lautan aksara terbendung dalam kegelisahan, hanya mengawang-awang di pikiran tak menjelma menjadi sebuah tulisan. Ketika itu terjadi akan banyak sobekan dari buku catatan gue, gumpalan-gumpalan kertas berisi coretan mengitari tempat di mana gue menulis, atau gue hanya memandangi layar kosong laptop gue, merenung di hadapan layar dengan pikiran yang kalut. Rasanya seperti menjadi zombie yang hidup tapi tak berjiwa, rasanya seperti pohon besar yang sudah mati, mengakar namun tak berdaun dan berbuah, seperti langkah tanpa jejak, cinta tapi tak dianggap.
Saat ini gue mengalaminya, di mana gue enggak bisa menuliskan apa-apa, meski jiwa berbalut jubah keresahan, biasanya jubah itu gue tanggalkan dengan tulisan, tapi rasanya seperti menyatu dengan kulit, menyatu dengan jiwa, menutupi mata hati, sehingga rasanya gelap melihat dunia, dan ketika dunia gelap, maka tak satu pun huruf yang dapat ku baca, tak sebatik pun kata yang dapat ku torehkan dengan pena, kecuali cahaya itu tiba, menyingkap gelap yang bersemayam membutakan jiwa. Cahaya itu adalah “CINTA”, sebab gue menulis dengannya.
Tapi setelah gue mengikuti beberapa buah event kreatif, gue pun seperti mendapat pencerahan, angin segar menepa gue, semangat menulis yang sudah lama padam pun kembali menyala. Event pertama yang gue ikuti adalah “Bapandiran Blog” talkshow dengan tema “personal blogger dan marketing blogger”, jadi itu adalah sebuah acara kopdar para blogger Banjarmasin yang dihadiri 2 orang blogger, yang pertama adalah Adittya Regas seorang penulis buku “Diary Anak Magang” yang mewakili personal blogger, yang kedua adalah Arif Fajar pengusaha bisnis online yang mewakili marketing blogger. Gue sih lebih “ngeh” ke personal bloggernya, karena gue juga personal blogger. Gue sih enggak ingat banyak apa yang gue dapat di event itu, tapi yang gue ingat, waktu sesi pertanyaan gue nanya ke Adittya Regas, “bagaimana caranya agar produktif dalam berkarya ?” lalu Adit menjawab katanya gue harus komit dalam menulis, memaksakan diri gue dalam satu hari itu gue harus menulis, entah itu status facebook tapi yang panjang, postingan blog seenggaknya harus terus ada, paling enggak seminggu sekali harus ada postingan, lalu Adit menutup jawabannya dengan sebuah kata-kata yang dia dapat dari Raditya Dika, dia bilang “tulisan kotor itu lebih baik, ketimbang tulisan kosong”. Jawaban dari Adittya Regas menjadi sebuah tamparan keras buat gue yang udah cukup lama membuat blog gue terbengkalai tanpa ada satu huruf pun yang gue posting. Jawaban dari Adit cuman memberi gue semangat kembali menulis, tapi tidak membuat gue menuliskan apapun, pikiran gue kacau saat memandangi layar laptop gue, dan akhirnya gue lebih memilih untuk memberikan diri gue waktu untuk menggali lebih dalam kegelisahan gue agar gue menemukan suatu hal yang bisa gue tuangkan.
Dan jawaban pun gue dapatkan saat minggu kemaren gue ikut sebuah event “Loop Kreatif Project”, di event itu ada GAC, Panji dan Raditya Dika. Awalnya gue ikut event itu cuman sekedar pingin seru-seruan, ya’ pingin ketemu Raditya Dika juga sih sebenarnya, buat minta tanda tangannya, soalnya blog ini ada karena gue terinspirasi oleh buku pertamanya Radit “Kambing Jantan” sebuah buku yang diangkat dari blognya sendiri yaitu kambingjantan.com, dan akhirnya setelah membaca buku itu gue pun juga tertarik untuk membuat blog, dan terciptalah blog zonasantri.blogspot.com ini. Kembali ke event tadi, sebelum ke event itu gue mampir sebentar di tempat fotocopy buat beli spidol, gue beli spidol ini buat minta tanda tangannya Raditya Dika. Saat gue nyampe di event itu, gue liat antrian panjang, gue pikir buat ikut ke eventnya harus registrasi dulu, jadi gue ikutan antri juga dong. Tapi ternyata itu adalah antrian buat ikut kelas coaching clinic dari bintang tamunya, ya’ gue milih ikutan kelas Raditya Dika dong. Saat giliran gue registrasi, gue tulis identitas diri gue, dan panitianya ngasih tiketnya ke gue, lalu dari mulut panitia itu gue dengar dia ngomong “wah tiket buat kelas Raditya Dika udah habis nih” dia bilang ke temannya yang ada di sebelahnya, gue yang mendengar hal itu merasa sangat beruntung, karena gue bisa mendapatkan tiket buat kelasnya Radit.
Gue pikir kelasnya Radit ini adalah kelas menulis, ternyata kelasnya adalah kelas digital video, kelas menulis dipegang sama Panji. Pikir gue bodoh amat ! Yang penting bisa minta tanda tangannya Raditya Dika. Saat berada di kelas enggak menunggu lama lalu Radit datang dengan disambut teriakan dan jeritan histeris cewek-cewek, saat Radit masuk gue sempat tercengang, bukan karena terpesona, tapi liat tampangnya Radit kayak orang baru bangun tidur, bahkan cewek yang duduk di belakang gue sampai ngomong “nih orang enggak mandi ya ?”. Sepanjang kelas berlangsung sangat meriah, apa aja yang keluar dari mulut Radit selalu disambut tawa yang riuh. Radit bilang cara untuk menjadi kreatif pertama “pola berpikir yang berbeda” maksudnya adalah kalau lo mau berkarya jangan membuat sebuah karya yang terbaik, sebab yang lebih baik dari lo banyak, buatlah karya yang berbeda. Yang kedua adalah menemukan pola tersembunyi, gue sih lupa maksudnya apa. Dan ketiga adalah hasrat untuk menciptakan sesuatu.

Lalu Radit menceritakan tentang kegelisahan, karena dia bilang ide itu berasal dari kegelisahan, dari kegelisahan itu membuat kita semakin menggali apa yang bisa kita tuangkan dan bisa kita kembangkan, misal kalo seorang cewek diputusin cowok lalu cewek tadi bertanya-tanya “kok dia mutusin gue ya ? Salah gue apa ya ? Kenapa ya dia sampai mutusin gue ?” itulah bentuk dari kegelisahan yang menggali sesuatu untuk dituangkan. Lalu Radit mulai menanyai orang-orang yang mengikuti kelasnya, dan sampai dia nanya ke salah satu cewek yang ada di samping kanan gue.
“Lo sekolah apa ?”
“SD”
“Hah ? Serius lo SD ?”
“Iya, serius”
“Kelas berapa ?”
“Kelas 6”
“Ok, kegelisahan lo di sekolah biasanya apa ?
“Tentang pacar kak”
“Buset ! SD udah ngomongin pacar” jawab Radit dengan nada lemes dan disambut tawa oleh orang-orang satu kelas, gue yang mendengarnya juga sedikit jelous, karena sampai sekarang gue masih jomblo, kalah sama anak SD.
Setelah itu Radit ngajarin gimana caranya bikin film, dari tata cahayanya, letak pengambilan gambarnya, ekspresinya harus seperti apa, sampai ditengah-tengah saat dia lagi memegangi handphonenya sebagai camera untuk menuinjukkan cara pengambilan gambar yang bagus seperti apa, Radit kemudian bilang “sampai sejauh ini ada yang ditanyakan ?”. Gue ngacungin tangan.
“Iya lo mau nanya apa ?” Radit mempersilahkan
Gue melontarkan sebuah pertanyaan yang sama saat gue tanyakan ke Adittya Regas di event sebelumnya.
“Cara produktif dalam berkarya ?” tanya gue dengan suara yang gemetar karena gugup.
“Beloooommmm ! Ini lagi bahas bikin video, malah gimana cara biar produktif” sahut Radit dengan nada kesal tapi lagi-lagi memancing tawa satu kelas dan gue malu enggak ketulungan.
Setelah Radit selesai menjelaskan hal-hal yang tadi, dia kembali ke gue dan meladeni pertanyaan gue tadi.
“Tadi lo yang nanya gimana caranya biar produktif ?”
Gue cuman ngangguk.
“Lo sekolah apa ?” tanya Radit
“Pesantren”
“Hah serius ?”
“Iya” sahut gue
“Batangan semua dong isinya” sahut Radit dengan santai yang diiringi tawa satu kelas
Terus dia bilang gue harus jujur dengan kegelisahan gue, apa yang menjadi kegelisahan gue di pesantren, ubah menjadi ide, lalu dipremise, lalu tuangkan menjadi sesuatu, entah itu tulisan atau film. Lalu Radit bilang “jangan takut memulai sebuah karya,apapun. Dalam diri lo ada buku yang menunggu untuk ditulis, ada lagu yang menunggu untuk dinyanyikan, dan ada film yang menunggu untuk dibuat” kali ini kata-kata Radit enggak dibalas dengan tawa, melainkan tepuk tangan yang meriah dari semua orang-orang yang mengikuti kelasnya Radit.
Kelas pun ditutup Radit dengan selfie bareng sama orang-orang seisi kelas. Di sela-sela Radit melakukan Selfie gue liat ada cewek yang minta tanda tanganin buku “cinta brontosaurus” ke Radit, melihat hal itu gue pun mencoba mendekati Radit buat minta tanda tangani buku gue juga, tapi belum sempat gue mendekati Radit, dia udah ngeloyor keluar dikawal dengan panitia-panitia event.
Sumber : instagram @raditya_dika
Melihat Radit yang udah cabut ke gedung dimana ada acara lain yang sudah menunggunya, gue pun langsung ngikutin dia. Gue ikutin Radit sampai ke backstage, sampai di depan ruangannya gue dihentikan oleh dua orang scurity yang menjaga ruangan itu. Gue pun menjauh, dan dari kejauhan gue liat pintu ruangan Radit terbuka, gue liat Radit lagi duduk santai dan enggak ngelakuin apa-apa. Pikir gue enggak ganggu kali kalo gue cuman minta tanda tangan doang, tapi sekali lagi gue males ngeladeni dua scurity tadi. Enggak lama gue berdiri deket ruangan Radit, dia pun keluar dengan dikawal oleh dua scurity tadi, melihat itu gue langsung memberanikan diri buat minta tanda tangan, dari semua buku Radit yang gue bawa saat itu ada Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, Babi Ngesot, Marmut Merah Jambu, Manusia Setengah Salmon dan Koala Kumal, saat itu gue ngambil asal hanya satu buku aja “Manusia Setengah Salmon”, lalu sambil minta tanda tangannya gue denger Radit juga nyanyi-nyanyi dengan pelan lagu “Kangen” dari Dewa19 mengiringi band pengisi acara yang membawakan lagu tersebut.
Setelah pulang ke rumah gue baru nyadar dan mikir kenapa dari semua buku yang gue bawa malah “Manusia Setengah Salmon” yang enggak sengaja gue ambil, gue ngerasa kalau ini adalah pertanda bahwa gue harus “pindah”, untuk terus menjadi lebih baik.