Laman

Kamis, 09 Oktober 2014

"Nayla" (Full Story)

Ini kisah fiksi yang gue tulis tanpa sebab kenapa dan tanpa tahu apa tujuannya, gue menulisnya begitu aja ketika di benak gue terbesit nama "Nayla" entah wanita itu siapa, apakah dia nyata atau tidak, yang jelas gue menulis kisah hidupnya, dan inilah kisah hidup Nayla :



Hidup adalah perjuangan, hidup adalah pilihan, dan juga hidup hanyalah sementara. Aku pun selalu bertanya, hal apa yang harus di perjuangkan di kehidupan yang sementara ini ? Cinta, harta dan tahta semua itu fana, takkan ada artinya seberapa pun besarnya, seberapa pun banyaknya, seberapa pun tingginya ketika jasad sudah tak lagi bernyawa.

Nayla seorang wanita kampung saat ini tengah memperjuangkan hidupnya di kejamnya ibu kota, dia bekerja hanya untuk dirinya sendiri karena dia hidup sebatang kara, ibunya harus bekerja menjadi TKW di Arab karena tuntutan ekonomi ketika dia baru lulus SMA, bapaknya pergi begitu saja tak tahu kemana, tak ada satu pun keluarga yang menginginkannya, tapi dia tetap melanjutkan hidup meski kehidupan tak menginginkannya.

Nayla pun memutuskan untuk pergi mengadu nasib ke Jakarta. Ketika baru pertama kali menginjakan kaki di Jakarta nasibnya begitu naas, melamar kerja kesana kemari namun tak di terima dengan alasan karena belum punya pengalaman kerja. Kejadian yang menimpanya membuat Nayla kebingungan, hendak membawa diri kemana di tengah hiruk pikuknya kota Jakarta. Matahari pun mulai tenggelam dan hari beranjak malam, Nayla hanya tertunduk lesu di bangku taman kota. Matanya hanya memandangi pengunjung-pengunjung lain di taman itu, pasangan muda mudi yang lagi berpacaran, orang yang berlarian dengan hewan peliharaannya, lalu dia melihat ke arah wanita cantik dengan pakaian sexy menghampirinya, dia adalah Ina.

“Boleh saya duduk di sini ?” Ina meminta izin untuk duduk di sebelah Nayla

“Oh silahkan” Nayla mempersilahkannya

“Loe kenapa ? Kelihatan murung banget dari tadi gue liat, ada masalah ya ?” tanya Ina ke Nayla

Nayla pun menceritakan masalahnya secara gamblang tanpa keraguan, soal orang tuanya dan soal dia yang sedang membutuhkan pekerjaan. Ina yang notabene memiliki salon lalu mengajak Nayla untuk bekerja di salonnya dan tinggal di rumahnya. Nayla pun hanya menurut saja karena di dalam benaknya hanya bagaimana mendapatkan uang dan bagaimana untuk tetap bertahan hidup di Jakarta.

Nayla mendapatkan training beberapa bulan. Nayla cukup pandai dan lekas memahami materi yang di berikan. Kehidupan Nayla pun cukup membaik setelah bekerja di salon Ina, sampai setahun sudah berlalu dia masih betah bekerja di sana, tak ada keluhan yang di rasanya, sampai pada suatu siang seorang pria tampan dengan postur tubuh yang besar datang ke salon Ina untuk potong rambut, Nayla melayaninya.

“Potong seperti apa mas ?” Nayla bertanya

“Rapikan saja” sahut pria itu

Sambil melakukan pekerjaannya Nayla sekekali melihat ke arah cermin hanya untuk memastikan dia melakukan pekerjaannya dengan benar.

“Sudah kelar mas” kata Nayla

“Oh iya, eh mbak ada barang baru enggak ya ?” tanya pria itu sambil menatap ke arah Nayla

“Barang apa ya mas ?” tanya Nayla kebingungan

“Alah belaga enggak ngerti, ya’ cewek lah !” sahut pria itu dengan nada sedikit membentak

Nayla terkejut mendengar perkataan pria itu dan lebih terkejut lagi ketika dia baru memahami kalau salon tempatnya bekerja adalah salon “plus plus”

“Maaf mas, saya kurang tahu masalah itu, biar saya tanyain dulu ke mbak Ina”

Pria itu hanya mengangguk sambil menatap nakal ke arah Nayla. Nayla berjalan menuju ke kamar Ina. Memang rumah dan salonnya itu jadi satu.

“Mbak Ina ?”

“Ada apa Nay ?”

“Ada cowok yang nanyain ada barang baru apa enggak katanya”

Ina tertawa kecil sambil memandang ke arah Nayla. Nayla merasa ada keanehan di balik tawa Ina.

“Kamu temani cowok itu ! Apa aja yang dia mau kamu harus nurut !” perintah Ina

Nayla sangat terkejut mendengar perintah Ina. Dia tak menyangka kalau Ina adalah germo yang mencari remaja-remaja putri pendatang yang ingin mengadu nasib ke Jakarta lalu di jadikan alat pemuas nafsu birahi para pria hidung belang.

Ina menyuruh Nayla masuk ke kamarnya lalu Ina keluar dan kamarnya pun di kunci. Di dalam kamar Nayla hanya menangis mengingat bayangan ibunya yang sekarang lagi bekerja di Arab Saudi, dia juga menyesali kedatangannya ke ibu kota.

Masih dalam isak tangis Nayla, tak lama kemudian pintu kamar terbuka, lalu masuklah pria yang tadi bicara dengan Nayla. Dia hanya bisa pasrah karena tak punya daya dan upaya untuk melawan.

Saat pria itu sudah puas dia pun meninggalkan kamar dan meninggalkan Nayla sendirian yang tak henti-hentinya menangis karena mengetahui bahwa dirinya sudah tak suci lagi. Tak lama pria itu keluar Ina masuk ke kamar lalu duduk di sebelah Ina yang terbaring berselimut sambil menangis.

“Udah ! Enggak usah segitunya, nih bayaran buat lo !” Ina bicara sambil memberikan sejumlah uang ke Nayla

“Ini uang buat gue ?” Nayla terkejut karena baru kali ini dia memegang uang sebanyak itu

“Iya, itu buat lo ! Enak kan lo di gituin dapet duit”




Nayla diam tak bergeming, dia berpikir jalan inilah yang harus di tempuh agar mendapat banyak uang. Pemikirannya itu membuat dia sedikit lebih tenang. Nayla memberanikan diri bicara ke Ina dan meminta untuk terus mendapat pekerjaan seperti ini karena dia tergiur dengan hasilnya yang cukup banyak tapi takkan pernah membuatnya puas.

Nayla pun melanjurkan dirinya untuk terjun ke lembah tergelap kehidupan. Dia mulai merubah penampilannya dengan selalu tampil sexy, sering datang ke tempat hiburan malam, mabuk-mabukan dan menemani pria-pria hidung belang. Kini dalam hidupnya hanya untuk bersenang-senang dan dalam pikirannya hanyalah uang, uang dan uang.

Kehidupan yang di jalaninya kini membuatnya lupa siapa dirinya, dari mana asalnya dan kemana tujuan hidupnya. Ketika baru bangun yang di pikirkannya hanyalah “berapa uang yang akan ku dapat hari ini ?” tak lagi terbesit di pikirannya tentang ibunya, sampai ketika Nayla dan Ina sedang duduk di salonnya menunggu pelanggan terdengar suara kumandang adzan dzuhur yang menggetarkan hati Nayla, sudah lama sekali dia tidak menunaikan kewajibannya untuk sholat lima waktu. Mendengar suara adzan itu entah kenapa membuat Nayla ingin menanyakan sesuatu ke Ina.

“Ina ?” Kata Nayla

“Hmmm, apa ?”

“Sampai kapan hidup kita kayak begini ya’ ?” tanya Nayla

“Enggak tau deh, lo sendiri mau sampai kapan ?” Ina balik nanya

“Sampai gue nemuin cowok sholeh yang tajir terus gue nikah sama dia, gue ajak dia jalan-jalan keliling dunia ke Jepang, Australy, Paris terus terakhir pergi haji bareng dan gue taubat deh”

Ina ketawa mendengar jawaban Nayla

“Ngeyel lo ! Jangankan cowok tajir yang ngajakin lo keliling dunia, cowok sholeh mana juga yang mau sama cewek murahan kayak lo” sahut Ina
Nayla lalu terdiam dan merenungi apa yang Ina katakan tadi memang ada benarnya dalam pikirannya. Pria sholeh mana yang mau punya jodoh seorang pelacur, meski berkecil hati, Nayla tetap berharap impiannya itu menjadi kenyataan, meski dia bukan wanita baik-baik  dia selalu berharap akan mendapat jodoh seorang pria yang baik, meski dia sudah ternoda dia selalu berharap mendapatkan pria yang mampu membawakan kembali kesuciannya.

Saat Nayla larut dalam lamunannya datanglah seorang pria tampan yang tak pernah di lihatnnya sebelumnya, Ina pun juga tak mengenali pria itu. Pria itu masuk ke salon lalu meminta untuk di potongkan rambutnya. Nayla yang saat itu sedang memandangi wajah pria itu lalu tersadarkan oleh perintah Ina yang menyuruh untuk memotong rambut pria itu.

“Mau potongan yang seperti apa mas ?” Tanya Nayla

“Di rapikan saja mbak” jawab pria itu dengan sopan

Sambil melakukan tugasnya Nayla berbicara banyak dengan pria ini, rupanya dia punya sebuah distro yang tak jauh dari salonnya Ina dan namanya pria ini adalah Doni. Melihat ketampanan wajah Doni dan keramahannya Nayla seketika jatuh cinta pada Doni, karena itu setelah selesai rambut Doni di potong dia memberanikan diri untuk minta nomor handphone Doni, setelah Doni memberikan nomor handphonenya dia lalu pulang.

Nayla yang sudah mendapat nomor handphone Doni langsung menghubungi Doni. Dari obrolan lewat telepon Nayla mengerti, rupanya Doni juga anak broken home, bapaknya sering main judi dan mabuk-mabukan, ibunya suka main dengan pria lain lalu bapak dan ibunya cerai ketika Doni masih SMP lalu dia ikut om’nya di Jakarta.

Meski tak ada sisi agamisnya dari Doni, dia memang pria yang baik, selalu sopan kalau bicara, tidak kasar, inilah yang membuat Nayla merasa kalau ini adalah pria yang di idamkannya. Semakin akrab Nayla dan Doni mereka pun akhirnya berpacaran, Nayla sangat bahagia Doni mau menerimanya apa adanya meski Doni tahu kalau Nayla ini adalah pemuas nafsu para pria hidung belang.


Hubungan Nayla dan Doni sudah sampai beranjak waktu 6 bulan, selama itu mereka selalu harmonis dan tak pernah ada konflik, Nayla pun juga merasa bahagia dengan Doni. Di hari jadi mereka yang keenam bulan Doni mengajak Nayla ke rumahnya, Nayla merasa sedikit cemas karena takut keluarga Doni tak menukainya karena dia bukan wanita baik-baik, tapi Doni berhasil menenangkan Nayla dan Nayla pun memenuhi ajakannya.

Dengan motornya Doni membawa Nayla ke rumahnya. Sesampainya di rumah Doni ternyata rumahnya sepi, tak ada satu pun orang di rumah. Doni membawa Nayla masuk ke rumahnya dan betapa kagetnya Nayla ketika melihat di atas meja ruang tamu berserakan obat-obat terlarang dan juga sabu-sabu, ternyata Doni seorang bandar narkoba. Doni dengan sigap langsung mengunci pintu rumahnya, Nayla pun ketakutan melihat Doni yang biasanya ramah tiba-tiba terlihat galak dan kasar. Nayla di suruh untuk masuk ke kamar tapi dia menolak, merasa tak terima dengan tolakan Nayla Doni pun menamparnya sampai terjatuh, lalu Nayla di seret Doni masuk ke dalam kamar. Nayla di perlakukan sangat kasar, seluruh pakaiannya di lepas paksa oleh Doni, dia di dorong ke tempat tidur sampai kepalanya terbentur, Nayla menangis sejadi-jadinya tapi semakin kencang tangisannya semakin keras juga pukulan yang di dapatnya. Melihat Nayla yang terus menjerit Doni menyumpal mulut Nayla dengan sarung tangan, lalu tanpa ragu mencumbuinya.

Setelah mengotori Nayla, Doni mengusirnya, Nayla di dorong sampai jatuh keluar kamar karena Doni merasa Nayla tak bisa memuaskannya, Nayla hanya terengah-engah sambil menangis melihat perlakuan pria yang di rasanya adalah jodohnya tapi ternyata hanya mempermainkannya saja. Nayla mengenakan kembali semua pakaiannya lalu berdiri untuk beranjak pergi dari rumah Doni, pada saat ingin melangkahkan kaki Doni berteriak dari dalam kamar.

“Awas lo kalo laporin ke polisi ! Kalo lo laporin gue, gue laporin juga salon tempat prostitusi lo itu !” Teriak Doni

Nayla hanya terdiam tanpa sepatah kata pun dia keluar dari rumah Doni, dia melihat ke langit rupanya sudah shubuh. Dia berjalan pelan meninggalkan rumah Doni sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. Dia benar-benar kecewa, air matanya selalu menetes di setiap langkahnya. Dia begitu kesakitan dan kelelahan, ketika jauh berjalan Nayla pingsan tak sadarkan diri.
Di alam bawah sadarnya Nayla melihat ibunya yang selalu menyebut namanya di depan ka’bah dan selalu memanggil-manggil namanya berharap dia bisa berada di sana, tapi seketika bayangan itu hilang ketika dia tersadarkan. Nayla bangun dan melihat seorang ibu tua renta yang duduk di sampingnya.

“Alhamdulillah sudah sadar, istirahat aja dulu nak, maaf kalo keadaannya enggak enak ya’ beginilah rumah ibu” kata ibu itu

“Aku di mana bu ?” Tanya Nayla kebingungan

“Udah kamu tenang aja, kamu ada di rumah ibu, tadi kamu pingsan di jalan terus anak ibu nolongin kamu lalu di bawanya kamu ke sini, kamu mau makan ?”

“Boleh bu” sahut Nayla pelan

“Sebentar ya’ nunggu anak ibu pulang dari masjid dulu” kata ibunya

Nayla mengangguk dan hanya bisa terbaring lemahsambil menatapi langit-langit rumah ibu yang baik hati ini. Nayla merasa terharu karena ketika tak satu pun keluarga yang peduli dengan keadaannya malah ada orang lain yang peduli dengannya.

“Assalamualaikum !”

Nayla masih shock dengan kejadian yang di alaminya dengan Doni, membuatnya sangat terkejut mendengar suara salam dari seorang pria yang masuk ke dalam rumah. Terlihatlah pria muda dengan wajah rupawan memakai baju koko lengkap dengan sarung dan pecinya masuk ke dalam rumah, lalu berjalan menghampiri Nayla.

“Oh sudah sadar ya’ mbak, ini saya belikan bubur, silahkan makan dulu jangan sungkan-sungkan” kata pria itu

“Te’ terimakasih” jawab Nayla agak terbata-bata



Sambil memakan bubur pemberian pria itu, Nayla berkenalan dengannya lalu menceritakan apa yang terjadi. Pria yang menolongnya itu namanya  Mirzha dia anak semata wayang dari ibu Aisyah, bapaknya sudah lama meninggal, dia juga seorang pengurus masjid yang juga guru mengaji di sana. Nayla tak hanya mendengar tutur kata yang sopan dari Mirzha, tapi juga siraman rohani yang basahi qolbunya yang sudah lama gersang. Menemukan Mirzha membuat Nayla merasa menemukan kembali dirinya, dia merasa seperti terlahir kembali dan ingin meninggalkan kehidupan kelam yang tak pernah membuatnya bahagia.

“Mas Mirzha, aku boleh enggak tinggal di sini ?” Tanya Nayla

“Oh boleh silahkan” Mirzha menjawab

“Buat selamanya mas, aku pingin berhenti jadi seperti ini” kata Nayla

“Astagfirullah, maaf ya mbak, saya tahu mbak Nayla pingin jadi orang baik, tapi kalo kita tinggal bareng kayak gini, takutnya ada fitnah, kita kan bukan muhrim mbak” sahut Mirzha

“Ya udah kalo gitu kita nikah dulu” tanpa pikir panjang Nayla mengatakan hal itu

“Maaf mbak aku enggak bisa”

“Kenapa ? Karena aku pelacur ?”

“Bukan begitu mbak, aku ini kerjanya cuman ngurus masjid sama ngajar ngaji aja, mana cukup buat berkeluarga”

Nayla terharu mendengar perkataan Mirzha, ternyata Mirzha menolaknya bukan karena dia pelacur tapi karena Mirzha merasa tak mampu menafkahinya.

“Aku rela kok mas hidup susah dengan mas Mirzha, aku lebih baik jadi orang susah tapi bener dari pada orang kayak tapi enggak bener, nanti aku juga nyari kerja yang halal buat bantu-bantu kebutuhan kita mas” kata Nayla






Mirzha tentu tidak bisa menerimanya begitu saja, karena dia baru saja bertemu dengan Nayla lalu di minta untuk menikahinya. Mirzha pun meminta waktu untuk memikirkan hal ini kepada Nayla. Mirzha mengambil air wudhu untuk melakukan sholat istiharah. Di dalam sujudnya Mirzha bermunazat kepada Alloh.

“Ya Alloh beri aku sebuah alasan mengapa aku harus menikahinya”

Setelah bangkit dari sujudnya, dan mengucapkan salam, rupanya ibunya Mirzha tlah duduk di sampingnya. Seolah munazatnya langsung di kabulkan ibunya berkata.

“Nak, Gusti Alloh sudah menjanjikan kalau wanita yang baik akan berpasangan dengan pria yang baik, kamu itu baik nak, kamu harus mengerti jodoh itu bukan di temukan tapi di bina, kalo istri kamu enggak baik ya gimana caranya kamu membuat dia untuk jadi baik, enggak ada yang menjamin Nayla itu lebih baik dari kamu atau kamu lebih baik dari Nayla” ibunya Mirzha menasihati

Mendengar perkataan ibunya Mirzha menangis dengan kepala tertunduk di lutut ibunya, Mirzha merasa bersalah karena sudah merasa lebih baik dari Nayla dan menganggap Nayla itu tidak pantas untuknya.

“Siapa lagi yang mau menerima Nayla itu, ibu yakin kamu bisa membimbingnya” timpal ibunya Mirzha

“Insya Alloh bu, ibu doakan saja” sahut Mirzha sambil menangis

“Doa ibu selalu menyertai kamu nak”

Dengan pertolongan Alloh dan dengan izin ibunya, Mirzha membulatkan tekad untuk menikahi Nayla dengan mengajukan dua syarat kepada Nayla yaitu “Menaati semua perintah Alloh dan menjauhi segala laranganNya”, Nayla cukup terkejut mendengar syarat itu, tapi karena tekadnya juga sudah bulat untuk berubah dia pun menyanggupinya.

Mirzha meminta waktu satu minggu untuk menyiapkan pernikahan tanpa resepsi itu. Penampilan Nayla pun berubah drastis dari yang selalu berpakaian minim, kini berpakaian santun lengkap dengan jilbabnya.

Ketika tiba hari pernikahannya Nayla yang tak memiliki keluarga menjadikan Ina sebagai walinya karena Ina sudah seperti saudara Nayla sendiri. Moment sakral ini berjalan dengan hikmat dan lancar. Mirzha memberikan seperangkat alat sholat berupa tasbih, Al-Qur’an dan sajadah, bukan tanpa maksud Mirzha memberikan semua itu sebagai mahar nikahnya.
“Nayla, aku memberikan mu tasbih dengan rajutan harap kasih agar cinta yang ku rasa seperti perputarannya berawal dan berakhir di butiran yang sama. Aku ingin dari mu cinta ku bermula dan dari mu pula cinta ku berakhir. Aku memberi mu sebuah kitab yang mulia dengan segala harap yang tersimpan dalam dada agar jalinan kita berjalan sesuai aturannya dan semoga kitab ini mempertemukan kita kembali di surga. Lalu sajadah yang sederhana ini adalah tempat kita mengadu kepada Ilah, ketika jalinan kita di uji KepadaNya lah kita utarakan kelemahan hati. Mungkin apa yang aku beri tidaklah istimewa tapi aku berharap dapat membawa makna, memberi arti dalam kehidupan yang fana, serta sebagai simbol abadi cinta kita”
Nayla terharu seraya menangis mendengar perkataan Mirzha yang begitu indah dan tulus.
“Iya mas, tuntun aku menjadi wanita yang sholehah ya’ mas, wanita yang di ridhoi Alloh” Nayla bicara dengan isak tangis sambil mencium tangan Mirzha

Mirzha menenangkan dengan mengusap-ngusap lembut kepala Nayla yang tertunduk di lututnya.









Setelah Nayla dan Mirzha menikah, hubungan Nayla dan Ina kian renggang dan akhirnya tak berhubungan lagi, karena Ina merasa tak enak bergaul dengan Nayla yang sekarang sudah menjadi wanita baik-baik, Ina tahu dia harus menempatkan diri. Begitu pun dengan Nayla, karena kini sudah berubah menjadi wanita baik-baik dengan bimbingan suami yang baik, tak lagi bergaul dengan Ina karena takut akan terjerumus kembali, mereka berdua pun akhirnya tak berhubungan lagi.

Untuk menambah penghasilan Mirzha dan Nayla menjadi pedagang kaki lima dengan berjualan soto di pinggir jalan. Mereka pun hidup dari hasil berjualan soto. Nayla menggantikan Mirzha ketika sudah sampai waktu sholat atau pun Mirzha ingin mengajar mengaji di masjid. Lapak sotonya semakin hari semakin terkenal dan semakin ramai oleh pengunjung. Sampai suatu ketika saat warung masih sepi, Nayla dan Mirzha hanya duduk menunggu ada yang mau membeli soto, lalu datanglah seorang pengunjung yang tak pernah Nayla duga akan menemuinya, pengunjung itu Doni. Melihat wajah Doni membuat Nayla kecewa karena teringat masa lalunya yang kelam juga perbuatan kasar Doni terhadapnya.

“Mau bungkus atau makan di sini mas ?” tanya Nayla dengan pelan

“Bungkus aja mbak” Sahut Doni

Rupanya Doni tak mengenali Nayla dengan jilbabnya atau dia sudah lupa dengan Nayla, tapi Nayla begitu mengenal wajahnya dan tak pernah melupakan apa yang sudah di lakukannya.

Ketika pesanan Doni sudah jadi, Doni pun langsung pergi. Tanpa terasa air mata Nayla menetes, membuat Mirzha bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi.

“Kamu kenapa nay ?” Tanya Mirzha kebingungan

“Dia itu tadi pria yang pernah menodai ku mas, maaf aku ini sudah tidak suci lagi” Nayla berkata sambil menangis




Melihat istrinya berbalut dalam kesedihan, Mirzha lalu memeluknya dan menenangkannya.

“Udah, enggak apa-apa, aku tetap nerima kamu kok, apa pun kamu, bagaimana pun masa lalu kamu, karena itu semua cuma masa lalu, kalau jelek toh ya’ jangan di ulangi lagi, udah jangan nangis, enggak apa-apa kok” Mirzha menenangkan Nayla

Perkataan Mirzha hanya membuat Nayla semakin deras meneteskan air matanya, betapa dia terharu menemukan seorang pria baik-baik yang mau menerima segala keburukannya lalu tak pernah mengeluh untuk selalu membimbingnya untuk menjadi lebih baik.

Hari demi hari berlalu,  pasangan ini selalu bahagia dalam kesederhanaan. Hidup mereka selalu terasa nikmat karena mereka bersyukur bukan ketika mendapat nikmat tapi saat bersyukur mereka mendapatkan kenikmatan. Nayla begitu bahagia ketika dia bisa berdiri di belakang Mirzha saat menunaikan sholat, lalu mencium tangannya usai itu. Mirzha juga selalu mengajarkan Nayla membaca Al-Qur’an, lebih dari itu Mirzha mengajarkan Nayla tentang hidup.

“Nay, kamu tahu apa tujuan manusia di hidupkan dan apa tujuan manusia di ciptakan ? Tanya Mirzha yang tengah duduk berdua Nayla di dalam kamarnya usai sholat

“Emang beda ya’ mas tujuan hidup sama tujuan di ciptakan ?” Nayla bertanya

“Memang terlihat sama Nay, padahal beda. Di dalam Al’Quran Alloh berfirman : Mengapa kamu kafir kepada Alloh, padahal kamu tadinya mati, lalu Alloh menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan ? (QS. Al Baqarah [2]: 28) Jadi tujuan kita di hidupkan itu untuk di matikan, lalu di hidupkan lalu di matikan, lalu di hidupkan dan lalu di kembalikan kepada Alloh, begitu Nay, jadi kita harus menyiapkan diri untuk mati nanti dengan memperbanyak ibadah kepada Alloh”  Mirzha menjelaskan



Ada perasaan aneh di hati Nayla ketika Mirzha membicarakan tentang kematian, tapi perasaan itu tidak terlalu di hiraukannya dengan kembali bertanya kepada Mirzha.

“Lalu tujuan manusia di ciptakan untuk apa mas ?”

“Tujuan manusia di ciptakan juga ada dalam Al’Qur’an, Alloh Swt berfirman : Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56), jadi Nay, tujuan kita di ciptakan itu semata-mata hanya untuk beribadah, menyembah kepada Alloh, jadi ya apa aja yang di perintahkanNya di kerjakan, dan apa-apa yang di larangNya ya di jauhi” Kata Mirzha

“Insya Alloh mas, itu kan juga jadi syarat mas ke aku ketika kita mau menikah” Nayla berkata sambil tersenyum

Mendengar perkataan istrinya, Mirzha hanya tersenyum dan mengecup kening Nayla dengan mesra. Moment ini membuat Nayla sangat bahagia dan sangat beryukur kepada Alloh tlah menghadirkan Mirzha dalam hidupnya. Entahlah akan jadi apa Nayla jika tak mendapat pertolongan Mirzha ketika dia pingsan di jalan setelah mendapat perlakuan kasar dari Doni.

Dua hari setelah mement romantis itu berlalu. Bendera kuning berkibar di depan rumah Mirzha, alunan syahdu bacaan surah yasiin mengalun lirih dalam rumahnya, ibunda Mirzha meninggal karena sakit yang di deritanya. Nayla merasa sangat sedih karena ibu Aisyah tlah mengisi kekosongan hidup Nayla yang kehilangan sosok ibu dan bu Aisyah lah yang mengisinya, sekarang tempat itu kosong kembali. Mirzha terlihat tabah walau hatinya begitu teriris kehilangan sosok ibu yang di cintai dan mencintainya.

Terjawab sudah bagi Nayla perasaan aneh ketika Mirzha membicarakan tentang kematian, rupanya dia akan kehilangan ibunda mertuanya yang memberikan amanah cinta kepada Mirzha untuk menjadi suaminya.




Meski di selimuti suasana duka karena Nayla dan Mirzha kehilangan sosok ibu, hidup tetap harus berlanjut. Tiga hari kemudian mereka kembali berjualan soto. Alhamdulillah minggu demi minggu selalu banyak orang yang membeli soto, membuat penghasilan mereka menjadi lebih baik, uang yang di dapat mereka tabung untuk keperluan di masa depan.

Tak ada kendala bagi Nayla dan Mirzha selama berjualan soto ini, sampai suatu ketika dating dua buah mobil truk dari satuan polisi pamong praja, tanpa ragu menggusur lapak soto Mirzha dan Nayla. Nayla menangis menjerit-jerit dan meronta-ronta melihat lapaknya di gusur, Mirzha hanya memandanginya dengan sabar dan merelakan semuanya.

“Mas warung soto kita !!!” Nayla berteriak sambil menangis

“Sudah-sudah, enggak apa-apa, malu keliatan banyak orang” Mirzha berkata sambil memegangi Nayla

“Kita jualan di mana lagi mas ?” ucap Nayla kebingungan sambil menangis

“Uang simpanan kita ada kan ? Nanti kita nyewa tempat buat jualan, udah kamu jangan nangis lagi” Mirzha menjawab sambil terus memeluk Nayla

Dengan uang simpanan mereka, Nayla dan Mirzha menyewa sebuah tempat di pinggir jalan. Minggu pertama jualan tak begitu banyak pengunjung yang datang tapi di minggu-minggu berikutnya warung soto Nayla dan Mirzha selalu ramai di penuhi pengunjung. Usaha Nayla dan Mirzha pun semakin besar, mereka punya 6 pelayan dan dari usahanya itu mereka bisa membeli rumah baru. Setelah bisa membeli rumah baru ada keinginan lain yang ingin Nayla lakukan. Saat di rumah ketika selesai sholat, masih di atas sajadah, Nayla meminta sesuatu kepada Mirzha.

“Mas uang kita kan udah lumayan banyak nih, aku boleh minta sesuatu enggak ?”

“Asal yang bermanfaat aja aku kasih deh” sahut Mirzha

“Aku mau kita umroh bareng” jawab Nayla

Mirzha tersenyum dan mengangguk tanda menyetujui permintaan Nayla. Melihat suaminya memenuhi permintaannya, Nayla langsung mencium tangan Mirzha dan mengucapkan terimakasih kepada suaminya tercinta.

Pada saat ingin berangkat ke tanah suci, mendadak kondisi badan Nayla sedang tidak baik, kepalanya pusing dan suhu badannya tinggi, tapi dia tetap melanjutkan perjalanan. Mirzha selalu setia berada di samping Nayla untuk mendampinginya.

Sampai di bandara King Abdul Ajiz “Jeddah”, mereka langsung berangkat menuju Madinnah. Saat di Madinnah ternyata di sana sedang musim dingin dan dinginnya mencapai 10 drajat celcius, memperparah sakit yang di alami Nayla. Waktu 4 hari Nayla di Madinnah di habiskannya hanya di dalam kamar hotel karena dia tak kuat untuk berdiri, tapi di hari terakhir di Madinnah saat semua jamaah akan melanjutkan perjalanan ke Mekkah, Nayla berusaha untuk berjalan ke masjid Nabawi hanya untuk merasakan sholat di sana dan jiarah ke makam Rosululloh. Di temani Mirzha yang tak pernah lelah mendampingi Nayla, mereka berjalan bersama menuju masjid. Ketika akan memasuki masjid mereka harus berpisah karena Nayla harus masuk ke shaf wanita dan Mirzha harus masuk ke shaf pria. Dengan lidah yang selalu bersholawat Nayla terus berjalan, sampai menemukan orang-orang yang berdesakan di atas karpet berwarna hijau, tempat itu adalah raudhoh, Nayla yang renta karna sakitnya berusaha ke sana berdesakan dengan jamaah lain untuk merasakan sholat di sana. Setelah usaha yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya dia bisa bersujud untuk melaksanakan sholat di raudhoh. Tangisan Nayla tumpah di sujud terakhir, dia merasa sangat berdosa dan meminta ampun atas semua dosa yang tlah dia perbuat.

Usai sholat Nayla bergegas berdiri lalu melanjutkan untuk berjalan melalui makam Rosululloh. Saat akan melewati makam, langkah Nayla menjadi terasa berat, kaki-kakinya menjadi lemas, meski begitu dia tetap berjalan sekuat tenaga dengan lidah yang tak henti-hentinya menuturkan sholawat. Nayla melambaikan tangan seraya mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad Saw. Air matanya tak henti-henti menetes, bayangan semua perbuatan dosa yang pernah di lakukannya terulang kembali, membuatnya air matanya mengalir semakin deras.




Di luar masjid Mirzha sudah menunggu Nayla. Begitu wajah Nayla Nampak terlihat, Mirzha dengan sigap langsung mendekatinya dan mendampingi setiap langkah-langkahnya sampai ke bus yang sudah siap berangkat menuju Mekkah. Nayla dan Mirzha duduk bersebelahan, Mirzha merangkul Nayla, sepanjang perjalanan tangannya tak pernah lepas dari pundak Nayla.

Sesampainya di Mekkah cuaca cukup baik, tapi keadaan Nayla tidak jua membaik. Baru menginjakan kaki di Mekkah Nayla langsung meminta Mirzha untuk menemaninya ke masjidil Harom meski keadaannya tak memungkinkan untuk berjalan. Jarak antara hotel dan masjid yang cukup jauh membuat Nayla harus menempuh perjalanan yang cukup beray larena sakit yang di deritanya. Ketika berada di depan pintu masjid yang bernama “King Abdul Ajiz Gate” Mirzha mengentikan langkah Nayla karena dia bernafas begitu terengah-engah, membuat Mirzha khawatir dengan keadaan Nayla.

Mereka pun masuk ke dalam masjid, untuk masuk ke dalam mereka harus melalui tangga, Mirzha membopong Nayla yang sudah terlihat tak lagi berdaya. Sampai ke bagian dalamnya mereka terus berjalan sampai terlihat lah sebuah bangunan segi empat dengan kain hitam yang bersahaja, terlihat lautan manusia berjalan mengelilinginya tak henti-henti. Nayla berlutut dan menangis melihat apa yang ada di depannya, lalu dia bersujud mengucap syukur bisa sampai ke sini dan kembali meminta ampun atas semua dosa yang pernah di buatnya. Mirzha sosok lelaki yang kuat dan tabah tak sanggup menahan pesona ka’bah yang begitu luar biasa, dia juga meneteskan air matanya.

Nayla bersujud lalu bermunazat meminta kepada Alloh berharap bisa menemui ibunya di sini. Bangkit dari sujud seolah punya kekuatan yang luar biasa, Nayla berdiri kemudian berlari menuju multazam, Mirzha berusaha berlari mengejarnya untuk mendampingi Nayla, namun tak terkejar. Meski masih dalam keadaan sakit Nayla terus berdesak-desakan dengan jamaah lain, lalu dia menyenggol seorang ibu-ibu sampai terjatuh, ketika di lihatnya ibu-ibu yang terjatuh itu adalah ibundanya sendiri, langkahnya menuju multazam pun terhenti karena sebelum sampai ke sana untuk bermunazat, doanya sudah di kabulkan oleh Alloh untuk menemui ibunya kembali.



“Astagfirullah, maaf bu, ibu ini Nayla” Nayla bicara kegirangan sambil menangis bahagia

“Subhanalloh, ini beneran kamu nak ?” Tanya ibunya Nayla

“Beneran bu, ini Nayla, aku kangen banget sama ibu” Nayla mengatakan itu sambil memeluk ibunya

Lalu datanglah Mirzha menghampiri kehangatan anak dan ibu yang baru bertemu ini, Nayla memperkenalkan Mirzha kepada ibunya.

“Bu ini Mirzha suami aku”

“Assalamualaikum bu” Mirzha member salam sambil mencium tangan ibunya Nayla

“Alhamdulillah nak, kamu sudah menikah” kata ibu Nayla dengan mata yang menangis dan bibir yang tersenyum

“Bu temenin aku ke multazam ya’, kita doa bareng-bareng” pinta Nayla

Ibunya Nayla dan Mirzha membopong Nayla bersebelahan karena Nayla sangat lemah keadaannya berjalan menuju multazam. Sampai ke dinding ka’bah tepat di multazam, Nayla bicara sambil menangis kepada ibu dan suaminya.

“Bu, mas, maafin aku kalo selama ini aku banyak salah, aku banyak dosa”

Ibunda Nayla dan Mirzha tak sanggup menjawab mereka hanya menangis. Badan mereka terus menerus terhempas ke dinding ka’bah karena terkena jamaah-jamaah umroh lain yang berdesakan. Lalu Nayla terhempas keras dan kepalanya terbentur dinding ka’bah, Nayla terjatuh ke lantai. Mirzha dan ibunya segera membawa keluar Nayla dari kerumunan jamaah umroh yang begitu banyak jumlahnya. Nayla terbaring, kepalanya bersandar di paha Mirzha, ibunya tak henti-hentinya menangis, Mirzha mencari denyut nadinya dan mencoba mendengarkan detak jantungnya, namun nadinya sudah tak lagi berdenyut, jantungnya tak lagi berdetak, Nayla sudah tiada.

Hidup adalah perjuangan, hidup adalah pilihan, dan hidup ini hanyalah sementara. Nayla sudah memperjuangkan hidupnya dan dia telah memilih apa dan mana yang pantas di perjuangkan dalam kehidupan yang sementara ini, dia pun memperjuangkan ridho Alloh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar