Hidup adalah perjuangan,
hidup adalah pilihan, dan juga hidup hanyalah sementara. Aku pun selalu
bertanya, hal apa yang harus di perjuangkan di kehidupan yang sementara ini ?
Cinta, harta dan tahta semua itu fana, takkan ada artinya seberapa pun besarnya,
seberapa pun banyaknya, seberapa pun tingginya ketika jasad sudah tak lagi
bernyawa.
Nayla seorang wanita
kampung saat ini tengah memperjuangkan hidupnya di kejamnya ibu kota, dia
bekerja hanya untuk dirinya sendiri karena dia hidup sebatang kara, ibunya
harus bekerja menjadi TKW di Arab karena tuntutan ekonomi ketika dia baru lulus
SMA, bapaknya pergi begitu saja tak tahu kemana, tak ada satu pun keluarga yang
menginginkannya, tapi dia tetap melanjutkan hidup meski kehidupan tak
menginginkannya.
Nayla pun memutuskan untuk
pergi mengadu nasib ke Jakarta. Ketika baru pertama kali menginjakan kaki di
Jakarta nasibnya begitu naas, melamar kerja kesana kemari namun tak di terima
dengan alasan karena belum punya pengalaman kerja. Kejadian yang menimpanya
membuat Nayla kebingungan, hendak membawa diri kemana di tengah hiruk pikuknya
kota Jakarta. Matahari pun mulai tenggelam dan hari beranjak malam, Nayla hanya
tertunduk lesu di bangku taman kota. Matanya hanya memandangi
pengunjung-pengunjung lain di taman itu, pasangan muda mudi yang lagi
berpacaran, orang yang berlarian dengan hewan peliharaannya, lalu dia melihat
ke arah wanita cantik dengan pakaian sexy menghampirinya, dia adalah Ina.
“Boleh saya duduk di sini
?” Ina meminta izin untuk duduk di sebelah Nayla
“Oh silahkan” Nayla
mempersilahkannya
“Loe kenapa ? Kelihatan
murung banget dari tadi gue liat, ada masalah ya ?” tanya Ina ke Nayla
Nayla pun menceritakan
masalahnya secara gamblang tanpa keraguan, soal orang tuanya dan soal dia yang
sedang membutuhkan pekerjaan. Ina yang notabene memiliki salon lalu mengajak
Nayla untuk bekerja di salonnya dan tinggal di rumahnya. Nayla pun hanya
menurut saja karena di dalam benaknya hanya bagaimana mendapatkan uang dan
bagaimana untuk tetap bertahan hidup di Jakarta.
Nayla mendapatkan training
beberapa bulan. Nayla cukup pandai dan lekas memahami materi yang di berikan.
Kehidupan Nayla pun cukup membaik setelah bekerja di salon Ina, sampai setahun
sudah berlalu dia masih betah bekerja di sana, tak ada keluhan yang di rasanya,
sampai pada suatu siang seorang pria tampan dengan postur tubuh yang besar
datang ke salon Ina untuk potong rambut, Nayla melayaninya.
“Potong seperti apa mas ?”
Nayla bertanya
“Rapikan saja” sahut pria
itu
Sambil melakukan
pekerjaannya Nayla sekekali melihat ke arah cermin hanya untuk memastikan dia
melakukan pekerjaannya dengan benar.
“Sudah kelar mas” kata
Nayla
“Oh iya, eh mbak ada
barang baru enggak ya ?” tanya pria itu sambil menatap ke arah Nayla
“Barang apa ya mas ?”
tanya Nayla kebingungan
“Alah belaga enggak
ngerti, ya’ cewek lah !” sahut pria itu dengan nada sedikit membentak
Nayla terkejut mendengar
perkataan pria itu dan lebih terkejut lagi ketika dia baru memahami kalau salon
tempatnya bekerja adalah salon “plus plus”
“Maaf mas, saya kurang
tahu masalah itu, biar saya tanyain dulu ke mbak Ina”
Pria itu hanya mengangguk
sambil menatap nakal ke arah Nayla. Nayla berjalan menuju ke kamar Ina. Memang
rumah dan salonnya itu jadi satu.
“Mbak Ina ?”
“Ada apa Nay ?”
“Ada cowok yang nanyain
ada barang baru apa enggak katanya”
Ina tertawa kecil sambil
memandang ke arah Nayla. Nayla merasa ada keanehan di balik tawa Ina.
“Kamu temani cowok itu !
Apa aja yang dia mau kamu harus nurut !” perintah Ina
Nayla sangat terkejut
mendengar perintah Ina. Dia tak menyangka kalau Ina adalah germo yang mencari
remaja-remaja putri pendatang yang ingin mengadu nasib ke Jakarta lalu di
jadikan alat pemuas nafsu birahi para pria hidung belang.
Ina menyuruh Nayla masuk
ke kamarnya lalu Ina keluar dan kamarnya pun di kunci. Di dalam kamar Nayla
hanya menangis mengingat bayangan ibunya yang sekarang lagi bekerja di Arab
Saudi, dia juga menyesali kedatangannya ke ibu kota.
Masih dalam isak tangis
Nayla, tak lama kemudian pintu kamar terbuka, lalu masuklah pria yang tadi
bicara dengan Nayla. Dia hanya bisa pasrah karena tak punya daya dan upaya
untuk melawan.
Saat pria itu sudah puas
dia pun meninggalkan kamar dan meninggalkan Nayla sendirian yang tak
henti-hentinya menangis karena mengetahui bahwa dirinya sudah tak suci lagi.
Tak lama pria itu keluar Ina masuk ke kamar lalu duduk di sebelah Ina yang
terbaring berselimut sambil menangis.
“Udah ! Enggak usah
segitunya, nih bayaran buat lo !” Ina bicara sambil memberikan sejumlah uang ke
Nayla
“Ini uang buat gue ?”
Nayla terkejut karena baru kali ini dia memegang uang sebanyak itu
“Iya, itu buat lo ! Enak
kan lo di gituin dapet duit”
Nayla diam tak bergeming,
dia berpikir jalan inilah yang harus di tempuh agar mendapat banyak uang.
Pemikirannya itu membuat dia sedikit lebih tenang. Nayla memberanikan diri
bicara ke Ina dan meminta untuk terus mendapat pekerjaan seperti ini karena dia
tergiur dengan hasilnya yang cukup banyak tapi takkan pernah membuatnya puas.
Nayla pun melanjurkan
dirinya untuk terjun ke lembah tergelap kehidupan. Dia mulai merubah
penampilannya dengan selalu tampil sexy, sering datang ke tempat hiburan malam,
mabuk-mabukan dan menemani pria-pria hidung belang. Kini dalam hidupnya hanya
untuk bersenang-senang dan dalam pikirannya hanyalah uang, uang dan uang.
Kehidupan yang di
jalaninya kini membuatnya lupa siapa dirinya, dari mana asalnya dan kemana
tujuan hidupnya. Ketika baru bangun yang di pikirkannya hanyalah “berapa uang
yang akan ku dapat hari ini ?” tak lagi terbesit di pikirannya tentang ibunya,
sampai ketika Nayla dan Ina sedang duduk di salonnya menunggu pelanggan
terdengar suara kumandang adzan dzuhur yang menggetarkan hati Nayla, sudah lama
sekali dia tidak menunaikan kewajibannya untuk sholat lima waktu. Mendengar suara
adzan itu entah kenapa membuat Nayla ingin menanyakan sesuatu ke Ina.
“Ina ?” Kata Nayla
“Hmmm, apa ?”
“Sampai kapan hidup kita
kayak begini ya’ ?” tanya Nayla
“Enggak tau deh, lo
sendiri mau sampai kapan ?” Ina balik nanya
“Sampai gue nemuin cowok sholeh
yang tajir terus gue nikah sama dia, gue ajak dia jalan-jalan keliling dunia ke
Jepang, Australy, Paris terus terakhir pergi haji bareng dan gue taubat deh”
Ina ketawa mendengar
jawaban Nayla
“Ngeyel lo ! Jangankan
cowok tajir yang ngajakin lo keliling dunia, cowok sholeh mana juga yang mau
sama cewek murahan kayak lo” sahut Ina
Nayla lalu terdiam dan
merenungi apa yang Ina katakan tadi memang ada benarnya dalam pikirannya. Pria
sholeh mana yang mau punya jodoh seorang pelacur, meski berkecil hati, Nayla
tetap berharap impiannya itu menjadi kenyataan, meski dia bukan wanita
baik-baik dia selalu berharap akan
mendapat jodoh seorang pria yang baik, meski dia sudah ternoda dia selalu
berharap mendapatkan pria yang mampu membawakan kembali kesuciannya.
Saat Nayla larut dalam
lamunannya datanglah seorang pria tampan yang tak pernah di lihatnnya
sebelumnya, Ina pun juga tak mengenali pria itu. Pria itu masuk ke salon lalu
meminta untuk di potongkan rambutnya. Nayla yang saat itu sedang memandangi
wajah pria itu lalu tersadarkan oleh perintah Ina yang menyuruh untuk memotong
rambut pria itu.
“Mau potongan yang seperti
apa mas ?” Tanya Nayla
“Di rapikan saja mbak”
jawab pria itu dengan sopan
Sambil melakukan tugasnya
Nayla berbicara banyak dengan pria ini, rupanya dia punya sebuah distro yang
tak jauh dari salonnya Ina dan namanya pria ini adalah Doni. Melihat ketampanan
wajah Doni dan keramahannya Nayla seketika jatuh cinta pada Doni, karena itu
setelah selesai rambut Doni di potong dia memberanikan diri untuk minta nomor
handphone Doni, setelah Doni memberikan nomor handphonenya dia lalu pulang.
Nayla yang sudah mendapat
nomor handphone Doni langsung menghubungi Doni. Dari obrolan lewat telepon
Nayla mengerti, rupanya Doni juga anak broken home, bapaknya sering main judi
dan mabuk-mabukan, ibunya suka main dengan pria lain lalu bapak dan ibunya
cerai ketika Doni masih SMP lalu dia ikut om’nya di Jakarta.
Meski tak ada sisi
agamisnya dari Doni, dia memang pria yang baik, selalu sopan kalau bicara, tidak
kasar, inilah yang membuat Nayla merasa kalau ini adalah pria yang di
idamkannya. Semakin akrab Nayla dan Doni mereka pun akhirnya berpacaran, Nayla
sangat bahagia Doni mau menerimanya apa adanya meski Doni tahu kalau Nayla ini
adalah pemuas nafsu para pria hidung belang.
Hubungan Nayla dan Doni
sudah sampai beranjak waktu 6 bulan, selama itu mereka selalu harmonis dan tak
pernah ada konflik, Nayla pun juga merasa bahagia dengan Doni. Di hari jadi
mereka yang keenam bulan Doni mengajak Nayla ke rumahnya, Nayla merasa sedikit
cemas karena takut keluarga Doni tak menukainya karena dia bukan wanita
baik-baik, tapi Doni berhasil menenangkan Nayla dan Nayla pun memenuhi
ajakannya.
Dengan motornya Doni
membawa Nayla ke rumahnya. Sesampainya di rumah Doni ternyata rumahnya sepi,
tak ada satu pun orang di rumah. Doni membawa Nayla masuk ke rumahnya dan
betapa kagetnya Nayla ketika melihat di atas meja ruang tamu berserakan
obat-obat terlarang dan juga sabu-sabu, ternyata Doni seorang bandar narkoba.
Doni dengan sigap langsung mengunci pintu rumahnya, Nayla pun ketakutan melihat
Doni yang biasanya ramah tiba-tiba terlihat galak dan kasar. Nayla di suruh
untuk masuk ke kamar tapi dia menolak, merasa tak terima dengan tolakan Nayla
Doni pun menamparnya sampai terjatuh, lalu Nayla di seret Doni masuk ke dalam
kamar. Nayla di perlakukan sangat kasar, seluruh pakaiannya di lepas paksa oleh
Doni, dia di dorong ke tempat tidur sampai kepalanya terbentur, Nayla menangis
sejadi-jadinya tapi semakin kencang tangisannya semakin keras juga pukulan yang
di dapatnya. Melihat Nayla yang terus menjerit Doni menyumpal mulut Nayla
dengan sarung tangan, lalu tanpa ragu mencumbuinya.
Setelah mengotori Nayla,
Doni mengusirnya, Nayla di dorong sampai jatuh keluar kamar karena Doni merasa
Nayla tak bisa memuaskannya, Nayla hanya terengah-engah sambil menangis melihat
perlakuan pria yang di rasanya adalah jodohnya tapi ternyata hanya
mempermainkannya saja. Nayla mengenakan kembali semua pakaiannya lalu berdiri
untuk beranjak pergi dari rumah Doni, pada saat ingin melangkahkan kaki Doni
berteriak dari dalam kamar.
“Awas lo kalo laporin ke
polisi ! Kalo lo laporin gue, gue laporin juga salon tempat prostitusi lo itu
!” Teriak Doni
Nayla hanya terdiam tanpa
sepatah kata pun dia keluar dari rumah Doni, dia melihat ke langit rupanya
sudah shubuh. Dia berjalan pelan meninggalkan rumah Doni sambil menahan sakit
di sekujur tubuhnya. Dia benar-benar kecewa, air matanya selalu menetes di
setiap langkahnya. Dia begitu kesakitan dan kelelahan, ketika jauh berjalan
Nayla pingsan tak sadarkan diri.
Di alam bawah sadarnya
Nayla melihat ibunya yang selalu menyebut namanya di depan ka’bah dan selalu
memanggil-manggil namanya berharap dia bisa berada di sana, tapi seketika
bayangan itu hilang ketika dia tersadarkan. Nayla bangun dan melihat seorang
ibu tua renta yang duduk di sampingnya.
“Alhamdulillah sudah
sadar, istirahat aja dulu nak, maaf kalo keadaannya enggak enak ya’ beginilah
rumah ibu” kata ibu itu
“Aku di mana bu ?” Tanya
Nayla kebingungan
“Udah kamu tenang aja,
kamu ada di rumah ibu, tadi kamu pingsan di jalan terus anak ibu nolongin kamu
lalu di bawanya kamu ke sini, kamu mau makan ?”
“Boleh bu” sahut Nayla
pelan
“Sebentar ya’ nunggu anak
ibu pulang dari masjid dulu” kata ibunya
Nayla mengangguk dan hanya
bisa terbaring lemahsambil menatapi langit-langit rumah ibu yang baik hati ini.
Nayla merasa terharu karena ketika tak satu pun keluarga yang peduli dengan
keadaannya malah ada orang lain yang peduli dengannya.
“Assalamualaikum !”
Nayla masih shock dengan
kejadian yang di alaminya dengan Doni, membuatnya sangat terkejut mendengar
suara salam dari seorang pria yang masuk ke dalam rumah. Terlihatlah pria muda
dengan wajah rupawan memakai baju koko lengkap dengan sarung dan pecinya masuk
ke dalam rumah, lalu berjalan menghampiri Nayla.
“Oh sudah sadar ya’ mbak,
ini saya belikan bubur, silahkan makan dulu jangan sungkan-sungkan” kata pria
itu
“Te’ terimakasih” jawab
Nayla agak terbata-bata
Sambil memakan bubur
pemberian pria itu, Nayla berkenalan dengannya lalu menceritakan apa yang
terjadi. Pria yang menolongnya itu namanya
Mirzha dia anak semata wayang dari ibu Aisyah, bapaknya sudah lama
meninggal, dia juga seorang pengurus masjid yang juga guru mengaji di sana.
Nayla tak hanya mendengar tutur kata yang sopan dari Mirzha, tapi juga siraman
rohani yang basahi qolbunya yang sudah lama gersang. Menemukan Mirzha membuat
Nayla merasa menemukan kembali dirinya, dia merasa seperti terlahir kembali dan
ingin meninggalkan kehidupan kelam yang tak pernah membuatnya bahagia.
“Mas Mirzha, aku boleh
enggak tinggal di sini ?” Tanya Nayla
“Oh boleh silahkan” Mirzha
menjawab
“Buat selamanya mas, aku
pingin berhenti jadi seperti ini” kata Nayla
“Astagfirullah, maaf ya
mbak, saya tahu mbak Nayla pingin jadi orang baik, tapi kalo kita tinggal
bareng kayak gini, takutnya ada fitnah, kita kan bukan muhrim mbak” sahut
Mirzha
“Ya udah kalo gitu kita
nikah dulu” tanpa pikir panjang Nayla mengatakan hal itu
“Maaf mbak aku enggak
bisa”
“Kenapa ? Karena aku
pelacur ?”
“Bukan begitu mbak, aku
ini kerjanya cuman ngurus masjid sama ngajar ngaji aja, mana cukup buat
berkeluarga”
Nayla terharu mendengar
perkataan Mirzha, ternyata Mirzha menolaknya bukan karena dia pelacur tapi
karena Mirzha merasa tak mampu menafkahinya.
“Aku rela kok mas hidup
susah dengan mas Mirzha, aku lebih baik jadi orang susah tapi bener dari pada
orang kayak tapi enggak bener, nanti aku juga nyari kerja yang halal buat
bantu-bantu kebutuhan kita mas” kata Nayla
Mirzha tentu tidak bisa
menerimanya begitu saja, karena dia baru saja bertemu dengan Nayla lalu di
minta untuk menikahinya. Mirzha pun meminta waktu untuk memikirkan hal ini
kepada Nayla. Mirzha mengambil air wudhu untuk melakukan sholat istiharah. Di
dalam sujudnya Mirzha bermunazat kepada Alloh.
“Ya Alloh beri aku sebuah
alasan mengapa aku harus menikahinya”
Setelah bangkit dari
sujudnya, dan mengucapkan salam, rupanya ibunya Mirzha tlah duduk di
sampingnya. Seolah munazatnya langsung di kabulkan ibunya berkata.
“Nak, Gusti Alloh sudah
menjanjikan kalau wanita yang baik akan berpasangan dengan pria yang baik, kamu
itu baik nak, kamu harus mengerti jodoh itu bukan di temukan tapi di bina, kalo
istri kamu enggak baik ya gimana caranya kamu membuat dia untuk jadi baik, enggak
ada yang menjamin Nayla itu lebih baik dari kamu atau kamu lebih baik dari
Nayla” ibunya Mirzha menasihati
Mendengar perkataan ibunya
Mirzha menangis dengan kepala tertunduk di lutut ibunya, Mirzha merasa bersalah
karena sudah merasa lebih baik dari Nayla dan menganggap Nayla itu tidak pantas
untuknya.
“Siapa lagi yang mau
menerima Nayla itu, ibu yakin kamu bisa membimbingnya” timpal ibunya Mirzha
“Insya Alloh bu, ibu
doakan saja” sahut Mirzha sambil menangis
“Doa ibu selalu menyertai
kamu nak”
Dengan pertolongan Alloh
dan dengan izin ibunya, Mirzha membulatkan tekad untuk menikahi Nayla dengan
mengajukan dua syarat kepada Nayla yaitu “Menaati semua perintah Alloh dan
menjauhi segala laranganNya”, Nayla cukup terkejut mendengar syarat itu, tapi
karena tekadnya juga sudah bulat untuk berubah dia pun menyanggupinya.
Mirzha meminta waktu satu
minggu untuk menyiapkan pernikahan tanpa resepsi itu. Penampilan Nayla pun
berubah drastis dari yang selalu berpakaian minim, kini berpakaian santun
lengkap dengan jilbabnya.
Ketika tiba hari
pernikahannya Nayla yang tak memiliki keluarga menjadikan Ina sebagai walinya
karena Ina sudah seperti saudara Nayla sendiri. Moment sakral ini berjalan
dengan hikmat dan lancar. Mirzha memberikan seperangkat alat sholat berupa
tasbih, Al-Qur’an dan sajadah, bukan tanpa maksud Mirzha memberikan semua itu
sebagai mahar nikahnya.
“Nayla,
aku memberikan mu tasbih dengan rajutan harap kasih agar cinta yang ku rasa
seperti perputarannya berawal dan berakhir di butiran yang sama. Aku ingin dari
mu cinta ku bermula dan dari mu pula cinta ku berakhir. Aku memberi mu sebuah
kitab yang mulia dengan segala harap yang tersimpan dalam dada agar jalinan
kita berjalan sesuai aturannya dan semoga kitab ini mempertemukan kita kembali
di surga. Lalu sajadah yang sederhana ini adalah tempat kita mengadu kepada
Ilah, ketika jalinan kita di uji KepadaNya lah kita utarakan kelemahan hati. Mungkin
apa yang aku beri tidaklah istimewa tapi aku berharap dapat membawa makna, memberi
arti dalam kehidupan yang fana, serta sebagai simbol abadi cinta kita”Nayla terharu seraya menangis mendengar perkataan Mirzha yang begitu indah dan tulus.
“Iya mas, tuntun aku menjadi wanita yang
sholehah ya’ mas, wanita yang di ridhoi Alloh” Nayla bicara dengan isak tangis
sambil mencium tangan Mirzha
Mirzha menenangkan dengan mengusap-ngusap
lembut kepala Nayla yang tertunduk di lututnya.
Setelah Nayla dan Mirzha menikah, hubungan
Nayla dan Ina kian renggang dan akhirnya tak berhubungan lagi, karena Ina
merasa tak enak bergaul dengan Nayla yang sekarang sudah menjadi wanita baik-baik,
Ina tahu dia harus menempatkan diri. Begitu pun dengan Nayla, karena kini sudah
berubah menjadi wanita baik-baik dengan bimbingan suami yang baik, tak lagi
bergaul dengan Ina karena takut akan terjerumus kembali, mereka berdua pun
akhirnya tak berhubungan lagi.
Untuk menambah penghasilan Mirzha dan Nayla
menjadi pedagang kaki lima dengan berjualan soto di pinggir jalan. Mereka pun
hidup dari hasil berjualan soto. Nayla menggantikan Mirzha ketika sudah sampai
waktu sholat atau pun Mirzha ingin mengajar mengaji di masjid. Lapak sotonya
semakin hari semakin terkenal dan semakin ramai oleh pengunjung. Sampai suatu
ketika saat warung masih sepi, Nayla dan Mirzha hanya duduk menunggu ada yang
mau membeli soto, lalu datanglah seorang pengunjung yang tak pernah Nayla duga
akan menemuinya, pengunjung itu Doni. Melihat wajah Doni membuat Nayla kecewa
karena teringat masa lalunya yang kelam juga perbuatan kasar Doni terhadapnya.
“Mau bungkus atau makan di sini mas ?” tanya
Nayla dengan pelan
“Bungkus aja mbak” Sahut Doni
Rupanya Doni tak mengenali Nayla dengan
jilbabnya atau dia sudah lupa dengan Nayla, tapi Nayla begitu mengenal wajahnya
dan tak pernah melupakan apa yang sudah di lakukannya.
Ketika pesanan Doni sudah jadi, Doni pun
langsung pergi. Tanpa terasa air mata Nayla menetes, membuat Mirzha
bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi.
“Kamu kenapa nay ?” Tanya Mirzha kebingungan
“Dia itu tadi pria yang pernah menodai ku mas,
maaf aku ini sudah tidak suci lagi” Nayla berkata sambil menangis
Melihat istrinya berbalut dalam kesedihan,
Mirzha lalu memeluknya dan menenangkannya.
“Udah, enggak apa-apa, aku tetap nerima kamu
kok, apa pun kamu, bagaimana pun masa lalu kamu, karena itu semua cuma masa
lalu, kalau jelek toh ya’ jangan di ulangi lagi, udah jangan nangis, enggak
apa-apa kok” Mirzha menenangkan Nayla
Perkataan Mirzha hanya membuat Nayla semakin
deras meneteskan air matanya, betapa dia terharu menemukan seorang pria
baik-baik yang mau menerima segala keburukannya lalu tak pernah mengeluh untuk
selalu membimbingnya untuk menjadi lebih baik.
Hari demi hari berlalu, pasangan ini selalu bahagia dalam
kesederhanaan. Hidup mereka selalu terasa nikmat karena mereka bersyukur bukan
ketika mendapat nikmat tapi saat bersyukur mereka mendapatkan kenikmatan. Nayla
begitu bahagia ketika dia bisa berdiri di belakang Mirzha saat menunaikan
sholat, lalu mencium tangannya usai itu. Mirzha juga selalu mengajarkan Nayla
membaca Al-Qur’an, lebih dari itu Mirzha mengajarkan Nayla tentang hidup.
“Nay, kamu tahu apa tujuan manusia di hidupkan
dan apa tujuan manusia di ciptakan ? Tanya Mirzha yang tengah duduk berdua
Nayla di dalam kamarnya usai sholat
“Emang beda ya’ mas tujuan hidup sama tujuan
di ciptakan ?” Nayla bertanya
“Memang terlihat sama Nay, padahal beda. Di
dalam Al’Quran Alloh berfirman : Mengapa
kamu kafir kepada Alloh, padahal kamu tadinya mati, lalu Alloh menghidupkan
kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah
kamu dikembalikan ? (QS. Al Baqarah [2]: 28) Jadi tujuan kita di hidupkan itu untuk di matikan, lalu di hidupkan
lalu di matikan, lalu di hidupkan dan lalu di kembalikan kepada Alloh, begitu
Nay, jadi kita harus menyiapkan diri untuk mati nanti dengan memperbanyak
ibadah kepada Alloh” Mirzha menjelaskan
Ada perasaan aneh di hati
Nayla ketika Mirzha membicarakan tentang kematian, tapi perasaan itu tidak
terlalu di hiraukannya dengan kembali bertanya kepada Mirzha.
“Lalu tujuan manusia di
ciptakan untuk apa mas ?”
“Tujuan manusia di
ciptakan juga ada dalam Al’Qur’an, Alloh Swt berfirman : Tidaklah Kuciptakan
jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS.
adz-Dzariyat: 56), jadi Nay, tujuan kita di
ciptakan itu semata-mata hanya untuk beribadah, menyembah kepada Alloh, jadi ya
apa aja yang di perintahkanNya di kerjakan, dan apa-apa yang di larangNya ya di
jauhi” Kata Mirzha
“Insya Alloh mas, itu kan
juga jadi syarat mas ke aku ketika kita mau menikah” Nayla berkata sambil
tersenyum
Mendengar perkataan
istrinya, Mirzha hanya tersenyum dan mengecup kening Nayla dengan mesra. Moment
ini membuat Nayla sangat bahagia dan sangat beryukur kepada Alloh tlah
menghadirkan Mirzha dalam hidupnya. Entahlah akan jadi apa Nayla jika tak mendapat
pertolongan Mirzha ketika dia pingsan di jalan setelah mendapat perlakuan kasar
dari Doni.
Dua hari setelah mement
romantis itu berlalu. Bendera kuning berkibar di depan rumah Mirzha, alunan
syahdu bacaan surah yasiin mengalun lirih dalam rumahnya, ibunda Mirzha
meninggal karena sakit yang di deritanya. Nayla merasa sangat sedih karena ibu
Aisyah tlah mengisi kekosongan hidup Nayla yang kehilangan sosok ibu dan bu
Aisyah lah yang mengisinya, sekarang tempat itu kosong kembali. Mirzha terlihat
tabah walau hatinya begitu teriris kehilangan sosok ibu yang di cintai dan
mencintainya.
Terjawab sudah bagi Nayla
perasaan aneh ketika Mirzha membicarakan tentang kematian, rupanya dia akan
kehilangan ibunda mertuanya yang memberikan amanah cinta kepada Mirzha untuk
menjadi suaminya.
Meski di selimuti suasana
duka karena Nayla dan Mirzha kehilangan sosok ibu, hidup tetap harus berlanjut.
Tiga hari kemudian mereka kembali berjualan soto. Alhamdulillah minggu demi
minggu selalu banyak orang yang membeli soto, membuat penghasilan mereka
menjadi lebih baik, uang yang di dapat mereka tabung untuk keperluan di masa
depan.
Tak ada kendala bagi Nayla
dan Mirzha selama berjualan soto ini, sampai suatu ketika dating dua buah mobil
truk dari satuan polisi pamong praja, tanpa ragu menggusur lapak soto Mirzha
dan Nayla. Nayla menangis menjerit-jerit dan meronta-ronta melihat lapaknya di
gusur, Mirzha hanya memandanginya dengan sabar dan merelakan semuanya.
“Mas warung soto kita !!!”
Nayla berteriak sambil menangis
“Sudah-sudah, enggak
apa-apa, malu keliatan banyak orang” Mirzha berkata sambil memegangi Nayla
“Kita jualan di mana lagi
mas ?” ucap Nayla kebingungan sambil menangis
“Uang simpanan kita ada
kan ? Nanti kita nyewa tempat buat jualan, udah kamu jangan nangis lagi” Mirzha
menjawab sambil terus memeluk Nayla
Dengan uang simpanan
mereka, Nayla dan Mirzha menyewa sebuah tempat di pinggir jalan. Minggu pertama
jualan tak begitu banyak pengunjung yang datang tapi di minggu-minggu berikutnya
warung soto Nayla dan Mirzha selalu ramai di penuhi pengunjung. Usaha Nayla dan
Mirzha pun semakin besar, mereka punya 6 pelayan dan dari usahanya itu mereka
bisa membeli rumah baru. Setelah bisa membeli rumah baru ada keinginan lain
yang ingin Nayla lakukan. Saat di rumah ketika selesai sholat, masih di atas
sajadah, Nayla meminta sesuatu kepada Mirzha.
“Mas uang kita kan udah
lumayan banyak nih, aku boleh minta sesuatu enggak ?”
“Asal yang bermanfaat aja
aku kasih deh” sahut Mirzha
“Aku mau kita umroh bareng”
jawab Nayla
Mirzha tersenyum dan
mengangguk tanda menyetujui permintaan Nayla. Melihat suaminya memenuhi
permintaannya, Nayla langsung mencium tangan Mirzha dan mengucapkan terimakasih
kepada suaminya tercinta.
Pada saat ingin berangkat
ke tanah suci, mendadak kondisi badan Nayla sedang tidak baik, kepalanya pusing
dan suhu badannya tinggi, tapi dia tetap melanjutkan perjalanan. Mirzha selalu
setia berada di samping Nayla untuk mendampinginya.
Sampai di bandara King
Abdul Ajiz “Jeddah”, mereka langsung berangkat menuju Madinnah. Saat di
Madinnah ternyata di sana sedang musim dingin dan dinginnya mencapai 10 drajat
celcius, memperparah sakit yang di alami Nayla. Waktu 4 hari Nayla di Madinnah
di habiskannya hanya di dalam kamar hotel karena dia tak kuat untuk berdiri,
tapi di hari terakhir di Madinnah saat semua jamaah akan melanjutkan perjalanan
ke Mekkah, Nayla berusaha untuk berjalan ke masjid Nabawi hanya untuk merasakan
sholat di sana dan jiarah ke makam Rosululloh. Di temani Mirzha yang tak pernah
lelah mendampingi Nayla, mereka berjalan bersama menuju masjid. Ketika akan
memasuki masjid mereka harus berpisah karena Nayla harus masuk ke shaf wanita
dan Mirzha harus masuk ke shaf pria. Dengan lidah yang selalu bersholawat Nayla
terus berjalan, sampai menemukan orang-orang yang berdesakan di atas karpet
berwarna hijau, tempat itu adalah raudhoh, Nayla yang renta karna sakitnya
berusaha ke sana berdesakan dengan jamaah lain untuk merasakan sholat di sana.
Setelah usaha yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya dia bisa bersujud
untuk melaksanakan sholat di raudhoh. Tangisan Nayla tumpah di sujud terakhir,
dia merasa sangat berdosa dan meminta ampun atas semua dosa yang tlah dia
perbuat.
Usai sholat Nayla bergegas
berdiri lalu melanjutkan untuk berjalan melalui makam Rosululloh. Saat akan
melewati makam, langkah Nayla menjadi terasa berat, kaki-kakinya menjadi lemas,
meski begitu dia tetap berjalan sekuat tenaga dengan lidah yang tak
henti-hentinya menuturkan sholawat. Nayla melambaikan tangan seraya mengucapkan
salam kepada Nabi Muhammad Saw. Air matanya tak henti-henti menetes, bayangan
semua perbuatan dosa yang pernah di lakukannya terulang kembali, membuatnya air
matanya mengalir semakin deras.
Di luar masjid Mirzha
sudah menunggu Nayla. Begitu wajah Nayla Nampak terlihat, Mirzha dengan sigap
langsung mendekatinya dan mendampingi setiap langkah-langkahnya sampai ke bus
yang sudah siap berangkat menuju Mekkah. Nayla dan Mirzha duduk bersebelahan,
Mirzha merangkul Nayla, sepanjang perjalanan tangannya tak pernah lepas dari
pundak Nayla.
Sesampainya di Mekkah
cuaca cukup baik, tapi keadaan Nayla tidak jua membaik. Baru menginjakan kaki
di Mekkah Nayla langsung meminta Mirzha untuk menemaninya ke masjidil Harom
meski keadaannya tak memungkinkan untuk berjalan. Jarak antara hotel dan masjid
yang cukup jauh membuat Nayla harus menempuh perjalanan yang cukup beray larena
sakit yang di deritanya. Ketika berada di depan pintu masjid yang bernama “King
Abdul Ajiz Gate” Mirzha mengentikan langkah Nayla karena dia bernafas begitu
terengah-engah, membuat Mirzha khawatir dengan keadaan Nayla.
Mereka pun masuk ke dalam
masjid, untuk masuk ke dalam mereka harus melalui tangga, Mirzha membopong
Nayla yang sudah terlihat tak lagi berdaya. Sampai ke bagian dalamnya mereka
terus berjalan sampai terlihat lah sebuah bangunan segi empat dengan kain hitam
yang bersahaja, terlihat lautan manusia berjalan mengelilinginya tak
henti-henti. Nayla berlutut dan menangis melihat apa yang ada di depannya, lalu
dia bersujud mengucap syukur bisa sampai ke sini dan kembali meminta ampun atas
semua dosa yang pernah di buatnya. Mirzha sosok lelaki yang kuat dan tabah tak
sanggup menahan pesona ka’bah yang begitu luar biasa, dia juga meneteskan air
matanya.
Nayla bersujud lalu
bermunazat meminta kepada Alloh berharap bisa menemui ibunya di sini. Bangkit
dari sujud seolah punya kekuatan yang luar biasa, Nayla berdiri kemudian
berlari menuju multazam, Mirzha berusaha berlari mengejarnya untuk mendampingi
Nayla, namun tak terkejar. Meski masih dalam keadaan sakit Nayla terus
berdesak-desakan dengan jamaah lain, lalu dia menyenggol seorang ibu-ibu sampai
terjatuh, ketika di lihatnya ibu-ibu yang terjatuh itu adalah ibundanya
sendiri, langkahnya menuju multazam pun terhenti karena sebelum sampai ke sana
untuk bermunazat, doanya sudah di kabulkan oleh Alloh untuk menemui ibunya
kembali.
“Astagfirullah, maaf bu,
ibu ini Nayla” Nayla bicara kegirangan sambil menangis bahagia
“Subhanalloh, ini beneran
kamu nak ?” Tanya ibunya Nayla
“Beneran bu, ini Nayla,
aku kangen banget sama ibu” Nayla mengatakan itu sambil memeluk ibunya
Lalu datanglah Mirzha
menghampiri kehangatan anak dan ibu yang baru bertemu ini, Nayla memperkenalkan
Mirzha kepada ibunya.
“Bu ini Mirzha suami aku”
“Assalamualaikum bu”
Mirzha member salam sambil mencium tangan ibunya Nayla
“Alhamdulillah nak, kamu
sudah menikah” kata ibu Nayla dengan mata yang menangis dan bibir yang
tersenyum
“Bu temenin aku ke
multazam ya’, kita doa bareng-bareng” pinta Nayla
Ibunya Nayla dan Mirzha
membopong Nayla bersebelahan karena Nayla sangat lemah keadaannya berjalan
menuju multazam. Sampai ke dinding ka’bah tepat di multazam, Nayla bicara
sambil menangis kepada ibu dan suaminya.
“Bu, mas, maafin aku kalo
selama ini aku banyak salah, aku banyak dosa”
Ibunda Nayla dan Mirzha
tak sanggup menjawab mereka hanya menangis. Badan mereka terus menerus
terhempas ke dinding ka’bah karena terkena jamaah-jamaah umroh lain yang
berdesakan. Lalu Nayla terhempas keras dan kepalanya terbentur dinding ka’bah,
Nayla terjatuh ke lantai. Mirzha dan ibunya segera membawa keluar Nayla dari
kerumunan jamaah umroh yang begitu banyak jumlahnya. Nayla terbaring, kepalanya
bersandar di paha Mirzha, ibunya tak henti-hentinya menangis, Mirzha mencari
denyut nadinya dan mencoba mendengarkan detak jantungnya, namun nadinya sudah
tak lagi berdenyut, jantungnya tak lagi berdetak, Nayla sudah tiada.
Hidup adalah perjuangan,
hidup adalah pilihan, dan hidup ini hanyalah sementara. Nayla sudah
memperjuangkan hidupnya dan dia telah memilih apa dan mana yang pantas di
perjuangkan dalam kehidupan yang sementara ini, dia pun memperjuangkan ridho
Alloh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar