Laman

Jumat, 31 Oktober 2014

One Eye, One Love



Ini adalah cerita yang gue tulis sendiri, gue nulis ini untuk orang-orang yang sok tulus mencintai tapi mewek pas di duain, mewek pas di bohongin, mewek pas pasangannya enggak peka, intinya cerita ini ngasih tau cinta yang tulus itu gimana. Peringatan ! Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan nama tokoh atau tempat kejadian, ya’ maklumin aja ya’ ! Dan juga kalo ada kekeliruan dalam tulisan atau ceritanya rada enggak nyambung atau jelek, ya maklumin juga, namanya juga amatiran hehe.

“ONE EYE, ONE LOVE”

Cinta adalah ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa, seorang pujangga berkata dalam syairnya ;

“KATA PUJANGGA, CINTA LETAKNYA DI HATI. Meskipun tersembunyi namun getarannya nampak sekali. Dia mampu mempengaruhi pikiran, sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu menjadi emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cinta’lah yang mampu melunakan besi, menghancurkan batu karang, menghidupkan yang mati dan meniupkan kehidupan kepadanya, serta membuat budak menjadi raja. Inilah dahsyatnya cinta.” (Jalaluddin Rummi)

Jalaluddin Rummi dalam syairnya menjelaskan bagaimana keajaiban cinta, kekuatan cinta, dan keindahan cinta. Dalam syairnya dikatakannya cinta dapat mengubah sakit menjadi sembuh, lantas bagaimana orang yang tersakiti karena cinta ? Jawabannya ada pada cerita yang saya tuliskan, kisah cinta seorang manusia biasa yang memiliki cinta yang luar biasa, kisah ini berawal dari seorang pria bernama Zein Musthafa, dia seorang mahasiswa perantau dari Kalimantan yang melanjutkan jenjang pendidikannya di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Yogyakarta.

Zein adalah pria yang cukup digandrungi kaum hawa karena parasnya yang mempesona. Dia juga sering bergonta-ganti pasangan dalam kurung waktu yang singkat, namun meski sudah sering menjalani hubungan percintaan, dia sama sekali tak mengerti bahkan tak tahu apa itu cinta, sampai dia menemui seorang penyanyi caffe bernama Dessy.

Waktu itu Zein tengah berada di sebuah caffe dan sedang sendirian. Dalam keheningannya tiba-tiba suara gitar yang diiringi suara merdu dari Dessy memecah hening yang dirasanya. Zein tidak terlalu peduli dengan music yang mengalun di caffe itu, tapi saat penglihatannya beralih ke wajah Dessy, dia tercengang dan enggan berkedip. Dia merasa ada yang lain saat menatap gadis yang tengah menyanyi sambil membawa gitar ini, sebuah perasaan yang selama ini tak pernah dirasanya lalu muncul ke permukaan hatinya.


Zein larut dalam keindahan paras dan suara Dessy yang menyanyikan lagu “Heaven” dari Bryan Adams, setiap lirik yang dilantunkan Dessy seolah benar-benar membawa Zein ke dalam surga dan dia sedang menyaksikan bidadari yang menyanyi dengan merdunya . Posisinya duduknya tak berubah sepanjang Dessy berada di atas panggung, sampai Dessy memberi salam kepada pengunjung caffe, tanda bahwa penampilannya sudah usai, baru’lah Zein beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati Dessy yang sedang berada di dekat panggung.

“Hai, maaf gue ganggu enggak ?” ucap Zein sambil menepuk bahu Dessy

“Oh enggak, ada apa ya’ ? Lo siapa ?” sahut Dessy yang nampak kebingungan

“Jadi gini gue mau kenalan aja kok, gue Zein” sambil menyodorkan tangan kanannya untuk mengajak bersalaman

“Iya, Dessy” sahut Dessy sambil menyalami Zein

“Lo udah makan belum ?” tanya Zein

“Belum, kenapa ?” jawab Dessy

“Makan yuk di situ, gue yang bayar deh” kata Zein sambil menunjuk tempat duduknya tadi

“Oh enggak usah, makasih” sahut Dessy

“Enggak apa-apa kok, yuk makan bareng gue” bujuk Zein

Dessy pun akhirnya mengiyakan bujukan Zein, mereka berjalan menuju meja tempat Zein semula. Mereka berbicara banyak hal, dari pembicaraan ini Zein mengetahui kalau Dessy adalah anak broken home, orang tuanya bercerai saat dia baru masuk kuliah semester pertama, Dessy lebih memilih untuk ikut ibunya, Dessy tak punya saudara, dia memutuskan untuk berhenti kuliah lalu bekerja sebagai penyanyi caffe untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.


Piring dan gelas kosong yang berada di hadapan Zein dan Dessy menjadi isyarat kalau momen indah bagi Zein ini, akan berakhir. Dan benar saja, Dessy lalu berterimakasih kepada Zein atas makanannya lalu dia pamitan pulang karena takut ibunya akan khawatir. Tapi sebelum Dessy meninggalkan tempat duduknya Zein melontarkan pertanyaan kepada Dessy.

“Besok lo manggung lagi enggak di sini ?” tanya Zein

“Enggak, gue cuman sabtu dan minggu di sini” jawab Dessy

“Oh gitu, iya deh” kata Zein

“Iya, gue pulang dulu ya’, bye” kata Dessy sambil beranjak meninggalkan Zein

Zein masih duduk di tempatnya menatap Dessy yang berjalan ke luar caffe, sampai bayangnya hilang di balik pintu. Masih terngiyang-ngiyang di telinganya suara Dessy pada saat menyanyi, dia lalu mengambil handphonenya lalu merubah ringtonenya menjadi lagu “Bryan Adams-Heaven” karena lagu ini selalu membuatnya teringat kepada sosok Dessy.

Berawal dari pertemuan pertama yang begitu berkesan untuk Zein, dia pun selalu datang saat kapan pun Dessy manggung di caffe itu. Seperti pertemuan yang pertama, pertemuan yang lainnya juga sama, Zein menjemput Dessy di bawah panggung, lalu mengajak makan yang disertai dengan obrolan-obrolan santai.

Hingga pada suatu pertemuan di hari minggu, saat itu pengunjung caffe sedang sepi, Zein duduk di tempat biasa dia berduaan dengan Dessy, sambil melihat Dessy yang sedang menyanyikan lagu “Risalah Hati” dari band Dewa19. Zein seolah terhipnotis oleh lirik-lirik lagunya yang menyayat hati, cintanya kepada Dessy yang dia pendam selama ini seolah tak sanggup lagi dia pendam.





Saat Dessy turun dari panggung, Zein menghampiri Dessy sambil membawa setangkai bunga yang dia ambil dari vas yang ada di meja makannya dan disembunyikannya di belakang badannya.

“Hai” sapa Zein ke Dessy

“Iya, kenapa ? Kok lo senyum-senyum gitu ?” balas Dessy

Zein kemudian memegang tangan kanan Dessy sambil berlutut dengan sebelah kakinya disertai tangan kanan Zein yang memegang bunga. Sontak apa yang dilakukan Zein membuat Dessy kaget dan kebingungan.

“Lo ngapain ?!” Dessy menjerit

“Des, gue enggak pernah tahu apa itu cinta, gue enggak pernah mengerti apa itu cinta, tapi saat pertama gue ngelihat lo, gue ngelihat cinta di wajah lo, dan selama ini buat gue cinta itu enggak ada artinya, tapi setelah mengenal lo, lo membawakan makna buat cinta gue yang enggak mengandung arti, tapi sekarang cinta ini berarti banget, dan gue cinta sama lo, lo mau enggak jadi cinta gue ?” Zein berkata sambil menatap mantap ke mata Dessy

Dessy diam tak bergeming, hanya kebisuan yang menjawab Zein. Dia membangunkan Zein yang berlutut di hadapannya, membenarkan jacket yang dipakai Zein, serta menyapu-nyapu rambut Zein.

“Zein, gue tahu lo orang baik, tapi maaf gue enggak bisa nerima lo, gue enggak mau jalani hubungan ini tanpa didasari cinta, gue enggak cinta sama lo Zein, gue harap lo mengerti” kata Dessy

Ucapan Dessy menjadi cambukan keras yang melukai hati Zein, karena selama ini dia belum pernah merasakan cinta yang seperti ini, ketika dia merasakannya malah tak dapat memilikinya. Zein hanya diam seribu bahasa di hadapan Dessy, wajahnya datar tak berkespresi, lalu tanpa sepatah kata dia memalingkan badannya lalu pergi meninggalkan Dessy.



Melihat Zein yang pergi tanpa sepatah kata pun menimbulkan siksaan di hati Dessy. Dia merasa bersalah karena menyakitinya tapi dia merasa lebih bersalah ketika dia memiliki Zein tanpa mencintainya. Hanya sebuah pesan singkat yang tak di balas berisikan kata “Maaf” yang dikirim Dessy kepada Zein.

Beberapa bulan sudah berlalu setelah kejadian itu, Zein kini hanyalah bangku kosong. Dia tak pernah lagi datang ke caffe tempat biasanya Dessy manggung. Hal ini semakin membuat Dessy merasa bersalah, rasa bersalahnya ini membuatnya sedikit frustasi. Dia mencoba mencari dan menghubungi Zein, namun hasilnya nihil, dia tak tahu harus berbuat apalagi, dia bisa saja memperbaikinya hanya saja Zein tak memberinya kesempatan.

Suatu waktu saat Dessy manggung di caffe tempat biasa dia manggung. Sebuah insiden menimpanya saat di atas panggung, senar gitar yang dimainkannya putus dan menghantam satu bola matanya. Kejadian itu cukup serius sampai Dessy dilarikan ke rumah sakit. Setelah diperiksa oleh dokter, rupanya hantaman senar gitar itu cukup kuat sampai merusak retina matanya dan mengakibatkan sebelah mata milik Dessy menjadi buta.

Kejadian yang dialami Dessy semakin membuatnya menderita. Dia semakin frustasi dengan berbagai penderitaan yang dia hadapi. Dia hanya bisa menangisi kehidupannya di atas ranjang rumah sakit. Dessy memegang tangan ibunya yang berada di sampingya, Dessy mencurahkan semua kesedihannya kepada orang yang melahirkannya ini. Ibunya hanya mengelus-ngelus kepala Dessy seraya menyabarkannya, sampai Dessy tertidur pulas.











Saat sinar matahari yang masuk dari jendela kamar rumah sakit mengenai Dessy, dia bangun dari tidurnya dan membuka kedua matanya. Dessy begitu histeris ketika dia merasakan kedua matanya berfungsi dengan normal, dia bisa melihat lebih jelas. Ibunya yang tertidur di dekatnya pun terkejut mendengar suara Dessy yang menjerit kegirangan.

“Mah, aku bisa melihat lagi !” jerit Dessy

“Iya, untunglah kemarin ada orang yang mau mendonorkan satu bola matanya untuk kamu” sahut ibu Dessy sambil tersenyum haru

“Hah, siapa mah ?” Dessy terkejut

“Mama enggak kenal sama orangnya” jawab ibunya Dessy

Keriangan Dessy seketika terhenti, lalu di kepalanya timbul lah sejuta tanya siapa orangnya yang mendonorkan matanya untuk Dessy. Dessy sempat mengira kalau Zein adalah pendonornya, tapi mengingat apa yang dilakukannya kepada Zein, Dessy menepis dugaan itu.

Mata Dessy kembali normal, begitu pula kehidupannya. Dia kembali menyanyi di caffe tempat biasa dia menyanyi. Tapi ada pemandangan lain di caffe tempatnya menyanyi, ada seseorang pria berambut panjang, berkumis dan berjenggot dengan kacamata hitam duduk di tempat biasa Zein duduk untuk melihat Dessy manggung. Fokus Dessy saat di panggu sedikit terusik dengan pria ini. Setelah selesai manggung Dessy mencoba menghampiri pria yang dari tadi memandanginya.

“Boleh duduk di sini ?” tanya Dessy sambil menunjuk tempat duduk yang ada di hadapan pria misterius ini

Tanpa ada suara hanya anggukan yang menjawabnya.

“Kok wajah lo enggak asing ya ? Kita pernah kenal sebelumnya ?” tanya Dessy

Lagi-lagi tak ada jawaban apa pun dari pria ini.

Dessy memberanikan diri untuk membuka kacamata hitam yang dipakai pria yang ada di hadapannya. Saat kacamatanya di lepas, kedua mata pria ini tertutup rapat, tapi Dessy dapat mengenali kalau pria ini sebenarnya adalah Zein.

“Zein ?! Lo Zein kan ?!” ucap Dessy sambil menggenggam erat tangan Zein

Zein tak menjawab dan tetap memejamkan matanya.

“Zein !!!! Jadi lo pendonornya ?! Zein jawab gue !!!” Dessy menjerit yang di sertai tangisannya

Zein tetap tidak menjawab dan tetap memejamkan matanya.

“Zein maafin gue !!! Maafin gue !!!” Dessy menjerit sambil berdiri untuk memeluk Zein

Lalu pelukan Dessy di tepis oleh tangan Zein, dan Zein menggiringnya kembali untuk duduk.

“Bukan salah lo, tapi salah gue. Gue yang salah, karena enggak mengerti bagaimana cara mencintai, padahal gue tetap bisa mencintai lo tanpa harus jadi milik lo, sekarang gue tahu kesalan gue, gue enggak tulus, gue mencintai lo dengan harapan lo mencintai gue juga, harusnya cinta yang tulus itu enggak kayak gitu, cinta yang tulus itu mencintai apa adanya, meski enggak memiliki, meski disakiti tapi tetap mencintai, sekarang saat gue tau caranya, gue enggak pernah sakit hati lagi, bahkan cinta gue semakin hari semakin besar, dan cinta gue yang besar ini cuman buat lo, gue cinta sama lo Des, apa pun itu meskipun lo enggak cinta sama gue, gue tetap cinta kok sama lo” Zein bicara dengan hanya membuka satu matanya yang berfungsi

Dessy bercucuran air mata mendengar perkataan Zein yang begitu menyayat hatinya. Dia langsung memeluk Zein dan merasakan menemukan cinta sejatinya, dia menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya apa adanya dan apa pun keadaannya. Dessy merasakan mata Zein yang bersarang di matanya adalah bentuk ketulusan Zein yang tak mungkin terbalas olehnya, dan dia juga benar-benar merasakan cinta dari mata yang turun ke hati.

Itulah kisah ketulusan seorang Zein. Harusnya kita mencintai itu apa adanya, kita tidak mengharapkan kebaikan, kejujuran, kesetiaan, atau bahkan berharap dicintai apa adanya juga, karena harapan-harapan itulah yang membuat kita sakit hati ketika tidak mendapatkannya, dan sebagai  jawaban dari pertanyaan “lantas bagaimana orang yang tersakiti karena cinta ?” Takkan pernah ada orang yang tersakiti karena cinta, selama kita tulus mencintai, karena orang tulus mencintai takkan pernah sakit hati seburuk apa pun atau sejahat apa pun perlakuan orang yang dicintainya terhadapnya, dan orang-orang yang merasa tersakiti karena cinta, itu bukan cinta, tapi hanya nafsu belaka yang mengharapkan kebaikan, kejujuran, kesetiaan atau apapun itu dari pasangan. Jika anda merasa tersakiti oleh pasangan, jangan dulu menyalahkan pasangan, tapi tengok dulu ke dalam, seberapa tulus anda mencintai pasangan ? Atau hanya nafsu yang anda punya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar